Tampilkan postingan dengan label langkah kaki. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label langkah kaki. Tampilkan semua postingan

Jumat, 21 Agustus 2015

Borneo : Pulau Seribu Rasa, Sejuta Misteri. Kalimantan!

Borneo, bagi saya itu adalah sebuah pulau yang menyimpan banyak misteri. Nggak cuma urusan alam dengan hutan belantara dan aliran sungainya yang aduhai, tapi juga budaya dan tentunya kekayaan kuliner yang tersimpan bersama beragam masyarakat yang ada didalamnya.

Ada kawan yang pernah bilang pada saya, kira-kira seperti ini lah : "Cha, sekali minum air Kalimantan nanti pasti ingin balik lagi". Percaya nggak percaya sih, tapi tampaknya tanpa ungkapan itu pun, Kalimantan akan menjadi destinasi yang nggak mungkin tuntas dengan 1 kali singgah apalagi hanya penghibur akhir pekan. Setuju?



Keinginan saya untuk menjelajah Kalimantan kembali membuncah saat tau akan ada Terios 7 Wonders Borneo Wild . KALIMANTAN!

Membayangkan melakukan perjalanan darat menembus jalan lintas Kalimantan sebenarnya sudah cukup membuat saya menggidik, bukan karena takut tapi justru super semangat. Sebagai penikmat perjalanan tentu sudah membayangkan akan ada banyak cerita selama perjalanan, apalagi ditunjang dengan kendaraan senyaman Daihatsu Terios yang adalah "Sahabat Petualang" wiiih nggak ada deh cerita yang tercecer karena jalan pintas lewat udara.



Kalau dilihat dari peta perjalanan yang ada di situs resmi Terios 7 Wonders Borneo Wild Adventure perjalanan kali ini akan melewati 3 Provinsi sekaligus mulai dari bagian tengah, selatan dan timur. Dan yang bikin berdebar lagi perjalanan akan dilakukan sekitar 10 hari dengan mayoritas adalah perjalanan darat tentu bersama "Sahabat Petualang" kita, Daihatsu Terios ! Tunggangan berkapasitas 7 orang yang nggak cuma tangguh di alam tapi juga kece berat saat melewati jalanan kota.

Kenapa saya nyinggung jalanan kota? Bagi saya bertualang nggak sebatas keluar-masuk hutan dan naik-turun gunung tapi kota juga menyimpan petualangan tersendiri. Mungkin karena itu jugalah  Terios 7 Wonders Borneo Wild memasukan Palangka Raya, Banjarmasin dan 2 kota besar lainnya yaitu Balikpapan dan Samarinda dalam peta perjalanannya. Meski bukan menjadi tujuan utama, tapi apa jadinya sebuah tujuan tanpa perjalanan yang mengasyikan?

Selasa, 18 Agustus 2015

Ngumpul, Main dan Olahraga di Taman Langsat

Meski nggak se-hype taman-taman yang ada di Bandung tapi taman kota di Jakarta jutga patut diperhitungkan lho. Sebut aja jejeran taman Menteng, taman Situ Lembang dan Taman Suropati yang jadi tempat berkumpulnya anak muda di tengah kota, atau taman Barito alias taman Ayodya di selatan. Dalam jejeran taman kota yang ada di Jakarta, ada 1 yang menarik saya, yaitu taman Langsat. Iya, taman yang beberapa tahun lalu terkenal dengan cerita horornya.. hiiiy...

Oke, saya nggak akan cerita horror-horror-an tapi saya mau berbagi tempat yang cukup enak buat ngumpul-ngumpul dan berkegiatan bareng teman-teman komunitas. Sudah 2 kali dengan 2 komunitas yang berbeda saya melakukan ngumpul kecil-kecilan disini. Untungnya meski nggak pakai surat izin kegiatan kami aman-aman aja tuh, mungkin ini lah gunanya ruang terbuka publik. Asal tetap jaga kebersihan kali ya.. Sayangnya saking serunya berkegiatan saya jadi kurang stok foto tentang taman ini, tapi saya nggak habis kata untuk menceritakan taman yang letaknya tepat di seberang taman Ayodya/ Taman Barito ini.

@cardtopost main-main di Taman Langsat / foto: www.cardtopost.com

Taman yang terletak di terletak di Jalan Langsat, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan ini diresmikan oleh Gubernur DKI Jakarta sebagai taman lansia pada tanggal 13 juni 2010 yang lalu. Sebelum dicanangkan menjadi taman lansia, tempat ini sebenarnya sudah menjadi salah satu ruang terbuka hijau tapi atas saran dari para pensiunan pegawai Pemda DKI mengenai diadakannya taman untuk para lansia, akhirnya Dinas Pertamanan dan Pemakaman DKI Jakarta menunjuk taman ini sebagai taman lansia pertama yang ada di Jakarta. Menurut informasi, kalau dulunya sih taman ini adalah rawa-rawa yang nggak terurus baru kemudian tempat ini berkembang menjadi jalur hijau Jakarta, ruang terbuka hijau dan kini dilengkapi dengan taman lansia setelah diambil alih oleh Dinas Pertamanan di tahun 1972.

Nah, meski namanya taman lansia bukan berati cuma lansia lho yang boleh kemari. Sekarang bahkan ada bagian taman yang telah direnovasi sehingga taman ini terlihat lebih terbuka dan hangat untuk para pengunjung dari berbagai usia bahkan dilengkapi oleh permainan anak-anak juga.

@youthfdiffable belajar di Taman Langsat / Foto : Rindi (YFD)
Buat yang suka olahraga dan pengen berolahraga diantara pepohonan rindang taman ini bisa jadi pilihan soalnya dilengkapi dengan Jogging track sepanjang 750 m! Dibeberapa bagian kita akan melihat jalur refleksi yang disukain banget sama oma-opa untuk jalan santai, itu lho jalur dengan bebatuan. Biasanya para lansia akan berjalan diatas jalur ini tanpa alas kaki. Anak muda yang mau nyoba juga boleh kok! Oh iya ada juga beberapa peralatan olahraga terpasang di taman ini.

Kalau mau sekedar santai atau berkumpul bersama teman, tempat ini nyaman banget lho! Taman seluas 3,5 hektar ini juga dilengkapi dengan aliran sungai kecil dan danau mini. Kita juga bisa sekedar menggelar tikar di atas rerumputan dan bercengkrama bersama teman-teman, tapi jangan lupa untuk tetap menjaga kebersihan ya.


Sabtu, 22 Maret 2014

Surabaya Rasa Thailand di KenPark

Pagi tadi saya sudah kembali ke Surabaya, tapi kali ini tidak bersama Ibu dan tante tapi hanya berdua dean. Ibu dan kawannya itu melanjutkan perjalanan ke Solo dan dilanjutkan ke Jogja. Haduh baru 3 bulan lagi saya bisa bermanja-manja ke Ibu dan berat rasanya melepas ibu trip tanpa saya (bilang aja pengen trip dibayarin ibu).

Setelah mengantar ibu ke stasiun akhirnya kami meluncur kembali ke kota pahlawan. Cepat saja karena memang melewati jalan yang seharusnua bukan jalan muter ke Kediri seperti sebelumnya. Mobil langsung meluncur ke rumah Dean di kawasan Rungkut. Jujur, meski berulangkali saya menapakan kaki di Surabaya saya selalu buta arah.

Hari masih siang, Dean punya aktivitas lain dan saya pun mengisi hari dengan teman lain. Yeah Eksplor Surabaya! Seperti biasa Paman Harman (kawan yang selalu menjamin kehidupan saya di Surabaya sejak lama) dengan manis menjemput saya dan rencananya kami akan jalan-jalan ke beberapa tempat sekaligus tapi saya ceritanya satu-satu yah.

Patung Budha 4 Wajah dan Gerbang Dewa-dewi di Kenjeran Park


Destinasi pertama adalah kawasan KenPark atau Pantai Ria Kenjeran, kawasan ini mengingatkan saya pada Taman Ria Remaja yang ada di Senayan, Jakarta. Keliatan banget kalau kawasan rekreasi ini pernah berjaya di tahun 80-90an. Masih banyak wahana yang berdiri gagah, sayangnya keliatan banget kalau kawasan ini minim perawatan.

Well, posisi Budha 4 wajah ada di KenPark bagian belakang atau lebih dekat ke Pantai. Benar saja saya sempat takjub dengan bangunan setinggi 36 meter didepan saya malahan hampir lupa kalau saya ada di Surabaya. Saya sempat menggabungkan foto Budha 4 Muka ini dan Budha Tidur di Mojokerto dan ada saja kawan yang percaya kalau saya sedang di Negeri Gajah Putih hahaha...

Masuk gerbang kawasan Budha 4 Muka kita akan disambut dengan bangunan bergaya tiongkok. Bangunan ini menyediakan berbagai macam keperluan ibadah seperti hio dan lainnya. Jika berkenan jangan lupa juga isi kotak dharma denga beberapa rupiah dari dalam saku. Dibandingkan dengan daerah disekitarnya, kawasan ini bisa dibilang lumayan adem lantaran pohon-pohon besar dan tamaung Budha n dipinggirnya lengkap dengan kolam memanjang ditengah yang segaris lurus dengan Patung Budha 4 Wajah.


Patung Budha ini memiliki 4 wajah yang menghadap 4 penjuru mata angin. Katanya sih melambangkan 4 sifat baik Budha, selain punya 4 wajah. patung ini juga memiliki 8 tangan yang memegang berbagai benda dengan berbagai simbol. Denger-denger sih patung Budha berlapis emas ini menelan biaya milyaran rupiah untuk pembangunannya.



Berbeda sama patung Budha yang banyak saya temukan di arca-arca, kali ini memang sangat terasa gaya Thailand-nya. Duh saya nggak tau harus menyebutnya apa tapi yah berbeda aja sapa patung Budha yang umumnya saya temui. Benar saja, katanya sih ada patung yang serupa yang bisa kita temui di Bangkok. Oh iya patung ini juga dikelilingi 4 patung gajah putih. Selain itu ada juga patung Ganesha sang Dewa Pengetahuan di kawasan itu.

Oh iya,karena ini adalah tempat ibadah yang masih digunakan, jadi kalau bisa berpakaian sopan lah jika bertandang ke tempat ini. Sore ini saya melihat adanya beberapa umat Budha yang sembahyang mengelilingi patung ini dan membuat saya segan untuk meneruskan kegiatan saya berfoto-foto. Ah sebagai wisatawan ada baiknya sejenak rehat untuk memberikan kesempatan kepada mereka yang beribadah.


Jumat, 21 Maret 2014

Hotel Riche : Penginapan nyaman, Perjalanan senang


Titik Km. 0 Kota Malang 

Masih di Kota Malang. Ibu memutuskan untuk jalan-jalan berdua tante mengitari alun-alun. Saya dan dean? hmm.. tidur saja lah. 

Oh iya, bagi saya dan ibu, alun-alun Kota Malang memiliki cerita tersendiri bagi kami dan mungkin jadi salah satu kenangan kami tentang kota ini (cerita saya tentang malang).

Bingung menceritakan apa di hari ini karena agenda kami "hanya" mengantar ibu berkunjung ke rumah saudara-saudara yang ada disana, dan makan bakso bakar yang meurut saya paling enak.. di Bakso Bakar Trowulan (ini sudah saya review pun). 


Hmmm.. hari ini saya memutuskan untuk review penginapan saja lah ya, mengingat saya sering kali menentukan penginapan dari review para blogger. Siapa tau ada yang membutuhkan.

Pilihan kami Jatuh pada "Hotel Riche". Setelah mempertimbangkan lokasi (maksudnya biar si Ibu bisa jalan-jalan walau saya sedang istirahat), harga kamar, kenyamanan akhirnya kami memilih hotel yang terletak persis di depan Alun-alun kota Malang ini.
Kenampakan dari depan agak samping, biar depannya tua tapi dalemnya cihuy
Sebelum memutuskan menginap disini banyak informasi hotel ini saya dapatkan dari Booking.com, tiket.com dan banyak web lainnya. hmm...  tampaknya hotel ini memang cukup terkenal. Awalnya saya sempat nggak yakin dengan foto-foto yang muncul di internet, maklum saja angle foto bisa menipu hahaa.. Takut ternyata hotelnya nggak nyaman lah, takut ternyata hotel yang gimana lah (you know what i mean lah yah), horor lah atau bingung itu foto-foto masih terpercaya apa nggak. Sorry, tapi dari beberapa foto hotel ini terlihat hotel yang tua dan kesannya sepi banget, padahal kan ditengah kota.
Lobby Hotel yang sederhana. Bersiaplah dilayani oleh para petugas yang ramah (sayang nggak sempet foto)
Yak, ternyata segala keraguan saya langsung hilang setelah datang langsung ke hotel ini. Hotel ini tampaknya memang hotel tua tapi  fasilitasnya baru lho, bahkan kamar yang saya pilih nggak kalah sama budget hotel dari jaringan-jaringan terkenal. Kamarnya sih memang nggak terlalu luas tapi fasilitasnya cukup lengkap dan nyaman lho ; Kasur Spring Bed, kamar mandi yang bersih plus air panas, TV flat, AC, dan tentunya dekorasi kamar yang oke. Selain fasilitas fisik, pertimbangan lain adalah mbak dan mas yang baik hati dan tidak sombong yang siap sedia membantu, adanya layanan sarapan pagi, kondisi hotel yang terang dan bersih juga adanya area parkir. Sedangkan Wifi sayangnya cuma kenceng di Lobby.

Oh iya Kamar yang sangat modern yang saya deskripsikan memang khusus untuk kelas Deluxe yang terletak dibagian depan. Untuk wisatawan berbudget minim, ternyata ada juga pilihan kamar yang ekonomis di hotel bagian dalam. Saya sih nggak sempat ngecek kondisinya tapi kalau dilihat dari tempatnya sih tampaknya bagian "asli" dari hotel ini. Beberapa kamar ekonomis tidak menyediakan fasilitas AC dan air panas, tapi bagi saya sih masih cukup oke dan bisa jadi pilihan kalau harus menginap lagi ke kota ini. Untuk yang bawa keluarga juga bisa memilih tempat ini karena terdapat juga pilihan kamar 3 dan 4 tempat tidur.

 Tampilan kamar hotel kelas Deluxe yang minimalis membawa kesan modern

Well, setelah plus-nya kini saya kasih minusnya ya.. biar bisa jadi pertimbangan. Waktu saya kesana ada beberapa kamar yang belum selesai pembaharuannya jadi wall papernya masih ada yang belum terpasang (termasuk kamar saya). Masalah lain waktu itu adalah Air panasnya agak lama keluar (mengingat Kota Malang pagi hari sangat dingin ini jadi masalah buat saya) dan sialnya saya dapat toilet yang flush-nya agak bocor jadi airnya ngalir terus dan berisik (sebagai anak sanitasi bergaya sok eenginer akhirnya masalah ini saya tuntaskan sendiri hahaha). 

Ada satu hal yang agak mengganjal buat saya, kalau lihat daftar harga di Hotel ini. Untuk beberapa kamar menurut saya sudah cukup ekonomis dan terjangkau, ini pun berbanding lurus dengan fasilitas. Harga kamar saya saat itu adalah 320 ribu rupiah per malam, tapi karena malam pertama saya menggunakan booking.com jadi cuma 300 ribu saja, cukup murah kan? Tapi lucunya ada beberapa kamar yang menurut saya agak pricey padahal fasilitasnya sama atau bahkan fasilitasnya dibawah kamar dengan harga atau kelas yang sama. Misalnya di Kelas Deluxe; di kamar 17 fasilitasnya pake fan tapi harganya 350 ribu lebih mahal dari kamar saya. Nah gimana tuh? Saya sih belum lihat kondisinya juga lupa tanya sama kasir atau petugas disana heheee...


Harga yang berlaku saat saya nginep disana yah (Maret 2014). Aktual price-nya boleh langsung kontak aja ke hotel

Hotel Riche
Jalan Basuki Rahmat, No. 1 Malang, Jawa Timur
0341 - 325460


Melipir ke 5 Kota dan melewati banyak kota

tadi malam di Jakarta, lalu buka mata di Surabaya, sarapan di Sidoarjo, menengok Kediri dan menutup hari di Malang 

Stasiun yang nggak asing bagi saya. Selamat datang di Surabaya
Perjalanan si ular besi yang saya tunggangi berakhir juga di Stasiun Pasar Turi. Stasiun yang dulu saya kira cuma untuk kereta ekonomi, stasiun yang menurut saya nggak se-kece stasiun Gubeng dan stasiun yang ternyata tujuan akhir kereta paling Kece se-Jawa (argo Bromo Anggrek).

Hari ini boleh jadi perjalanan panjang buat saya dan rombongan, setelah perjalanan 9 jam menggunakan kereta kini kami harus melanjutkan perjalanan dengan mobil. 

Beruntung saya dikelilingi orang baik, Saya selalu menganggap teman adalah sebuah anugrah. Ya, buktinya hari ini. Seorang teman baik hari akan bergabung bersama rombongan ibu-ibu rempong selama beberapa hari. Ah terima kasih Dean! yang begitu baiknya mengantar saya, ibu dan tante untuk berkeliling dari satu kota ke kota lain.

Oke, hari saya di buka oleh macetnya Ibu Kota Jawa Timur yang ternyata kalau pagi nggak beda jauh dengan Jakarta. Macet di pagi hari kerja ternyata saya temukan juga disini. Mungkin kah saya akan rindu suasana macet seperti ini? well, let we see.

Perjalanan dilanjutkan ke kawasan Sidoarjo yang hmm.... tipikal kota penyangga, kawasan industri dan jalur luar kota dengan restoran merangkap rest area dimana-mana. 

Hari semakin siang kami lalu melintasi daerah Mojokerto. Ah saya selalu ingin ke kota ini, tentunya dengan cerita keagungan Majapahit dan kawasan trowulannya, sayang kami nggak sempat mampir kesana karena khawatir terlalu sore sampai di Kediri, tujuan utama kami yang pertama. Di Mojokerto kami sempat mampir sejenak ke sebuah Vihara yang terkenal dengan patung Budha Tidur-nya (Cek Cerita tentang Vihara Maha Majapahit disini).
Sedikit tentang budha tidur yang katanya ketiga terbesar di dunia
Kendaraan pun terus melaju melewati kota Jombang, Kota-nya para santri. Kami benar-benar melintasi tengah kota Jombang yang menurut saya sangat bersih dan entah lah tampak begitu bersahaja. Kota ini mengingatkan saya pada salah satu kota yang saya lewati sewaktu berjunjung ke sulawesi selatan.

Yak, sip! akhirnya terlihat juga gapura yang menandakan saya telah masuk kawasan Kabupaten Kediri dan tinggal menuju Kawasan Pare yang dikenal sebagai kampung bahasa, tempat saya akan berdiam selama 3 bulan kedepan. Well, ternyata meskipun sang kawan ini meng-klaim dirinya berasal dari Kediri ternyata dia dari kawasan yang berbeda dan membuat kami harus bertanya beberapa kali untuk mencapai tujuan.

Disuguhi pemandangan ini selama perjalanan, selalu suka dengan sawah dan langit

Setelah tanya sana-sini akhirnya kami disambut dengan Gapura "Selamat Datang" di kawasan kampung bahasa atau yang juga disebut kampung inggris. Ah suasana belajar sudah tercium disini, anak-anak mengayuh sepeda mini, gerombolan yang jalan kaki seenaknya dan deretan tempat kursus bahasa. Urusan saya kesini adalah hanya melihat tempat les, melihat asrama dan bertemu dengan seorang teman, setelah itu kami melanjutkan perjalanan lagi.Oh iya ibu saya sempat kurang suka dengan kondisi asrama saya yang.. ya seadanya saja deh.. heheee... 

Yak sip! Sudah sore dan saatnya melanjutkan perjalanan ke tujuan kedua. Yaitu kota Malang! hahaaa.. Perjalanan dari Surabaya ke Malang biasanya ditempuh sekitar 2 jam saja melalui jalur yang semestinya, sedangkan hari ini kami menghabiskan hampir satu hari untuk kesana... haha... Petualang!

Jiwa supir saya mulai keluar, saatnya berkenalan dengan jalur Hawa Timur! yeah!!! dan saatnya mencoba berjendara dengan mobil matic! haa... jujur ini pertama kali saya menggunakan mobil matic, Norak ! Yak, Mulai! (pindah tuas ke mode D). Keluar kawasan kabupaten Kediri kami disambut oleh Kabupaten Malang sebelum sampai ke kota Malang. Jalanan mulai berliku mengingatkan saya pada Trip Garut Selatan yang jalannya juga aduhai. Beberapa kali saya disalip oleh Bus "penguasa" jalur ini. Maklum saja Newbie.

Jalur aduhai Ngantang-Pujon di Kabupaten Malang pun akhirnya saya tuntaskan. Hawa dingin dan segar mulai terasa saat memasuki Kota Batu. Ah salah satu Kota yang saya suka! Kota yang kecil dengan kesadaran Pariwisata yang tinggi. Kota ini tidak asing untuk saya karena beberapa bulan lalu saya sempat mengunjungi dan menyelesaikan sebuah pekerjaan di kota ini.

Jalanan yang mulus mengantarkan saya memasuki gerbang kota Malang. Ah akhirnya sampai! SAYA BUTUH KASUR!!! hahaha.. maklum lah sejak semalam tidak meluruskan tubuh dengan benar. Berbekal GPS dan sok tau akhirnya sampai juga kami di kawasan Alun-alun Kota Malang. Ah.. tuntas juga hari ini. Sebuah perjalanan panjang dari perjalanan yang jauh lebih panjang.

Ciao! Selamat istirahat.

Kamis, 20 Maret 2014

100 Hari Perjalanan ke Timur Jawa Dimulai...

Hahhaa judulnya agak menyeramkan yah? ya sudah lah sedikit terinspirasi dari perjalanan Tong Sam Cong mencari kitab suci ke barat :)


 Perjalanan saya dimulai hari ini (tepatnya 19 Maret 2014) dari Stasiun Kereta Api Gambir, Jakarta. Jadi hendak kemanakah saya dan apa yang akan saya lakukan? Sebenarnya ini bukanlah sebuah perjalanan yang begitu seriusnya dan bisa aja kurang atau lebih dari seratus hari alias nggak seperti judul diatas. Sebuah perjalanan yang buat saya sih cuma mencari pengalaman sebagai pelajar lagi, mencari jawaban beberapa pertanyaan dan rasa penasaran saya tentang suatu daerah di Kediri yang dikenal dengan kampung Inggrisnya.


Sekarang saya berada di atas kereta api super cepat yang ada di Indonesia dan bisa dibilang kereta api (yang biasanya) paling mahal juga sebut saja Argo Bromo Anggrek hehehe... Perjalanan kali ini adalah masuk kategori perjalanan jarang-jarang. Jarang-jarang saya naik kereta kelas eksekutif, jarang-jarang saya pergi dengan gegembolan seabrek dan yang terpenting adalah jarang-jarang emak saya ikut saya pergi-pergi (mengingat waktu kuliah aja emak nggak nganter dan cuma ngunjungin saya beberapa kali ajah).



Ah mungkin si emak rada nggak percaya kali yah.. anak gadisnya yang udah nggak masa-masa belajar unyu ini mau melepas pekerjaannya dan berkelana 3 bulan di desa orang makanya beliau ikut dan memastikan kalau saya emang bener selama 3 bulan ini akan nyangsang dan mencari ilmu bernama Bahasa Inggris.


Berbeda dengan beberapa kawan yang ke Kampung Inggris dengan akses stasiun Kediri, kali ini saya akan menempuh jalur Surabaya lantaran ada seorang kawan yang dengan baik hati akan jalan-jalan dengan kami selama beberapa hari ini. Ah terima kasih Dean yang sabar dan baik hati.

Biar lah cerita sampai disini dulu, mungkin saya nggak akan bisa setiap hari update cerita ini tapi.. ah sudah lah kita lihat koneksi internet dan hasrat menulis saya mengenai petualangan ini.

..bersambung...

Jumat, 07 Februari 2014

Serangan Pagi Tinutuan dan Nike Goreng


Warnanya yang kuning segar membuat makanan ini tampak menarik terlebih lagi dengan taburan abon roa diatasnya, wah sedap!


Buat beberapa orang tinutuan atau yang dikenal dengan bubur Manado sama sekali bukan makanan yang menarik jika dilihat dari bentuknya. Sssst buat saya orang yang bilang itu berarti belum pernah nyobain ini makanan. Huh rugi banget sih ngeliat makanan dari bentuknya aja.

Oke, saya emang nggak menyangkal kalau makanan yang satu ini bikin sebagian orang nggak selera, maklum aja warnanya yang orange menyala berpadu dengan dedaunan didalamnya plus bulir-bulir jagung bikin bentuknya agak nggak karuan. Kurang cantik lah untuk dilihat. Weits tapi ini kan makanan yah jadi bukan buat dilihat aja tapi untuk dimakan dan lidah lah yang bisa menilainya.

Kamis, 06 Februari 2014

Manado ooh Manado, Bumi Kawanua yang Damai

Saya : Jessi.. gimana keadaan disana
Jessi : Cuma kota sama beberapa kecamatan yang sama pusat kota mba yang berantakan
Saya : Markas kota aman? Markas Provinsi?
Jessi : Aman markas provinsi.alun-alun tikala tempat belanja souvenir,itu jadi lautan lumpur
Itu lah penggalan percakapan saya dengan seorang kawan di kota Manado. Bencana banjir dan longsor yang menimpa ibu kota Sulawesi Utara pada Januari lalu mengingatkan saya akan kunjungan pertama kali ke pulau Sulawesi dan semua baik-baik saja. Entah bagaimana keadaan kota itu sekarang, mungkin saya belum lagi bisa menyusuri jalan Sam Ratulangi dengan santai atau Jalan Piere Tendean yang ramai itu. Sekarang saya hanya bisa menerima update berita dari kawan-kawan PMI yang ada disana yang dengan sigapnya memberikan pelayanan saat Manado terkena banjir bandang.

Karena terlalu banyak berita buruk tentang kota itu setelah dilanda banjir bandang kemarin, saya justru jadi teringat betapa kota itu cukup menyenangkan. Kota besar yang sederhana dan nyaman untuk menghabiskan sore bersama kawan atau sekedar menghabiskan hari dengan berjalan kaki sambil lirik-lirik warung makan yang bertebaran. Jadi boleh yah saya cerita tentang kunjungan saya Juli 2013 lalu :)

Selasa, 04 Februari 2014

Liburan "Lumayan" Hemat ala Ucha (cerita Belitung Trip 2013)

Siapa bilang liburan itu selalu mahal? Saya jadi ingat liburan saya setahun lalu saat menyambangi pulau Belitung. Dengan biaya yang cukup dan lumayan hemat saya bisa menjelajah dua kabupaten dipulau penghasil timah tersebut dalam 3 hari dan tentunya mendapat pengalaman dan teman-teman baru.

Sebelumnya kenapa saya mengatakan ini liburan lumayan hemat? karena bagi sebagian orang total biaya yang saya keluarkan masih cukup tinggi maklum masih nembus angka 1 juta Rupiah (termasuk tiket pesawat) dan saya masih dikategorikan mewah lantaran saat itu tinggal di hotel. Hmmm mungkin kirasarn hemat berdasarkan nominal memang relatif yah bagi beberapa orang tapi dengan fasilitas yang saya dapat kan saya boleh berbangga dengan liburan lumayan hemat ini kok.

Liburan lumayan hemat diawali dengan tiket promo salah satu maskapai penerbangan di Indonesia. Oke berhubung si maskapainya udah dinyatakan ditutup maka saya sebut saja Batavia Air hehehehe tentunya sebelum maskapai ini ditutup. Nah berkat bisikan-bisikan digital maka saya diarahkan pada promo sekali terbang 176 ribu aja. Lumayan kan? lumayan lah meskipun sebelumnya ternyata ada yang lebih murah hehehe... Oke dari pesawat aja saya udah mengeluarkan cost 352 ribu (176 ribu x 2 untuk pergi dan pulang).

Selasa, 21 Januari 2014

Curug Sanghyang Taraje : Terjun Bebas Dari Surga

Saking tingginya, Air terjun ini dibaratkan tangga dewa-dewi

Kabuaten Garut bisa dibilang gudangnya curug alias air terjun. meski lebih dikenal dengan kota dodol ataupun wisata air panasnya kabupaten ini ternyata memiliki beberapa curug yang ciamik banget salah satunya adalah Curug Sanghyang Taraje.

Meski saya bilang curug ini ciamik, jangan bayangkan sebuah objek wisata yang lengkap dengan fasilitasnya. Huh.. boro-boro ada faslitas wisata nanya ke warga setempat (di Garut kota) tentang curug ini aja pada nggak tau!

Oke, dengan modal nekat dan selembar brosur wisata kabupaten Garut yang bilang ini curug keren banget maka saya dan beberapa kawan memutuskan untuk menyambangi curug tersebut dengan hanya tau nama kecamatan dan kelurahan yang tertera dibrosur, sisanya? kemana ban motor ini akan bergulir saja lah dan tentunya dengan bantuan GPS alias Guidance Penduduk Setempat alias nanya aja lah dijalan.

Senin, 09 September 2013

Tanjung Layar : Pentalan Layar Sangkuriang

Lo kok kalau cerita sepotong-sepotong sih?
Ya elah ini kan blog bukan majalah

Sepertinya kawasan wisata Sawarna cukup memikat hati Saya, yah seperti yang sempat Saya ceritakan selain pantainya yang aduhai jaraknya pun masih cukup masuk akal untuk ditempuh kala weekend bersama keluarga dan sahabat. Apalagi kalau pakai Terios, wuuus… belokan? tanjakan? Nggak masalah.


Hampir semua orang yang pernah menginjakan kaki ke Sawarna (apalagi pakai paket travel) pernah menginjakan kakinya ke tempat ini, tempat yang sudah jadi ikon untuk kawasan wisata Sawarna. Tanjung Layar! Oke, sebenarnya cerita mengenai Tanjung Layar sudah sering sekali diangkat oleh teman-teman blogger dan traveller tapi memang kurang afdol kalau ngomongin Sawarna nggak ngomongin destinasi yang satu ini.




Meskipun dulu saya sering menyambangi Kecamatan Bayah, saya cuma bisa melihat Tanjung Layar dari kejauhan dan tentunya mendengar cerita teman-teman saya. Nah beberapa saat yang lalu saya, keluarga dan para sahabat akhirnya menyambangi gugusan karang yang benar-benar ciamik ini. "Oke, wajar lah disini jadi ikonnya Sawarna", ungkap saya saat berkunjung ke Tanjung Layar. Yah seperti yang penduduk lokal bilang, nggak lengkap ke Sawarna kalau nggak ke Tanjung Layar dan gara-gara itu kawasan ini jadi rame banget...
(Silahkan intip videonya)



Ssssst.. denger-denger nih yah, Tanjung Layar punya cerita yang lekat dengan legenda Sangkurang. Lho kok? Setelah ditilik-tilik nama layar dan bentuk batu karang besar yang menyerupai layar dikabarkan adalah layar dari perahu yang “gagal” dibuat oleh Sangkuriang waktu ingin mempersunting dayang sumbi yang nggak lain ibunya sendiri. Nah kan karena kesal, marah dan murka itu perahu ditendang dan terbalik dan berubahlah jadi Gunung Tangkuban Paharu (Tangkuban Perahu) yang ada di Bandung, sedangkan layarnya mental sampai Selatan Banten. Hmmm.. beneran apa nggak? Atau nyambung apa nggak? Yah itu sih ya udah lah yah.

Kamis, 05 September 2013

Goa Langir : Yang Tersembunyi dari Surga Tersembunyi

Ah ngapain sih? hobi banget nyeritain jalan-jalan? 
Saya tau banyak informasi tempat dari blog orang, nggak salah dong kalau sekarang gantian ngasih info.


 dan, cerita dimulai...


Sekarang, siapa sih yang nggak tau Sawarna? Apalagi buat para petualang, baik itu para backpacker maupun yang ikut agen travel. Letaknya yang nggak terlalu jauh sama Jakarta dan keadaan alamnya yang emang ciamik bikin Sawarna jadi salah satu tempat yang recomended untuk melepas lelah para penghuni kota besar macam Saya dan beberapa orang pembaca tulisan saya hehehe...


Kalau banyak blogger yang bilang Sawarna itu surga tersembunyi di selatan Banten, maka saya punya surga tersembunyi di Sawarna. Lho? Namanya Pantai Goa Langir. Agak sedikit berbeda dengan Pantai Pasir Putih dan Pantai Ciantir yang kerap dikunjungi wisatawan, pantai yang satu ini bisa dibilang nggak segitu famous-nya. Gimana nggak, selain emang letaknya yang lumayan jauh dari peradaban Sawarna dengan hiruk-pikuk para wisatawannya, akses ke pantai ini juga cukup ajaib. Dari penginapan saya, sebelum mencapai pantai kami jadi petualang dulu lantaran harus melewati kandang kambing, pematang sawah dan sedikit berbasah di sungai kecil (lebih mirip selokan alam sih). Ajib!

Kamis, 25 Juli 2013

Menyambangi Museum Si Ular Besi

Apa yang terlintas ketika mendengar kata Ambarawa? Bagi para penggemar dan pecinta kereta api atau rail fans tentunya Ambarawa sangat lekat dengan si ular besi. Ya, disanalah terletak museum kereta api yang juga (katanya) merupakan museum kereta api satu-satunya di Asia Tenggara.

Tidak heran jika ada yang bilang museum ini dikategorikan sebagai museum besar karena bila dilihat dari luas areanya. Lokomotif dan gerbong kereta yang bersejarah koleksi Museum Kereta Ambarawa disusun sedemikian rupa diatas rel-rel yang ada disekitar bangunan. Benda-benda koleksinya tidak melulu pernak-pernik yang bisa disimpan dikotak kaca melainkan banyak yang disimpan diluar ruangan sehingga tentu saja memerlukan area yang luas dalam penyimpanannya.

Masuk ke kawasan jalan Museum Ambarawa, kita akan disambut dengan beberapa cerobong lokomotif yang mengintip dari balik pagar seng berwarna putih dengan ornamen orange khas PT. Kereta Api. Sekilas bangunan museum ini menyerupai sebuah stasiun kereta, jangan aneh karena dulunya bangunan ini memang stasiun kereta api yang dibangun pada 1873 dan dialihfungsikan menjadi museum ditahun 1976. Pengelolaan Museum Kereta Api Ambarawa masuk kedalam wilayah Daop IV Semarang, PT Kereta Api (persero).  Sayangnya dari Semarang menuju Ambarawa tidak ada rel aktif yang bisa mengangkut wisatawan ke museum tersebut.

Gedung bekas stasiun yang menjadi gedung museum ini dinamakan Willem I sesuai dengan nama Raja Belanda yang mengagas berdirinya stasiun ini dahulu. Sekarang gedung operasional stasiun disulap menjadi museum yang menyimpan berbagai perlengkapan perkeretaapian seperti mesin tik, mesin hitung, alat komunikasi dan lainnya. Untuk menikmati semua ini pengunjung hanya perlu membeli tiket seharga Rp. 5.000 di loket yang masih dipertahankan bentuknya menyerupai loket tiket kereta jaman dahulu.

Bagi wisatawan yang berharap merasakan kereta uap jaman dahulu, disinilah tempatnya namun tentu untuk merasakan kereta wisata ini harus merogoh kocek dalam-dalam karena untuk sekali jalan kereta tersebut membutuhkan biaya antara 3,5 – 5,5 juta tergantung jarak tempuh. Jika tetap ingin naik kereta wisata ini dengan biaya yang terjangkau maka tunggulah perjalanan reguler bersama wisatawan lain atau setidaknya ajaklah setidaknya 80 orang teman untuk berwisata dengan rute Ambarawa – Bedono dengan tarif Rp. 50.000.

Sehabis menikmati jadulnya bangunan Willem I beserta koleksinya dan lokomotif tua yang menawan sempatkan waktu untuk membeli oleh-oleh berupa pernak-pernik maupun kaos segai kenang-kenangan.

Apa : Museum Kereta Api Ambarawa
Dimana : Jalan Stasiun Ambarawa No. I, Ambarawa, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah (0298) 591035
Kapan :  08.00 – 16.00 (setiap hari)
Berapa : Rp. 5.000


Kamis, 24 Januari 2013

Ini Indonesia Bray, Ini Belitung!

Menyambung dari cerita saya sebelumnya tentang betapa indah destinasi wisata yang ada di Indonesia, kali ini saya akan berbagi sedikit tentang Belitung, pulau yang menjadi sangat terkenal setelah terangkat oleh Laskar Pelangi.

Perjalanan saya dimulai dengan tiket promo yang saya dapatkan dari maskapai Batavia Air (ini bukan promo) lewat penerbangan seharga 176 ribu (PP jadi 352) saya bisa menginjakan kaki ke pulau yang terkenal dengan timahnya itu. Oh iya waktu tiket promo itu saya nggak niat lho buat kesana tapi apa dikata keisengan akhirnya memebawa saya membooking penerbangan ke Tanjung Pandan.

Buat para pecinta novel Laskar Pelangi atau fans Andrea Hirata tentu tanah Belitung jadi salah satu tempat sakral dan tempat dimana imajinasi mereka bisa tertuang dalam dunia nyata. Jadi saat akhirnya merencanakan trip ke pulau Belitung jujur yang saya nggak tau harus kemana hehehe... Jadi yah apa yang terjadi disana maka terjadilah.

Sesampainya di Belitung kami dijemput oleh pak Sukri, supir yang akan mengantar kami berkeliling pulau ini. Hmm di Belitung itu jarang sekali bus dan kalau mau kemana-mana lebih bail pakai travel atau kendaraan pribadi jadi untuk wisatawan disarankan menyewa kendaraan biar lebih asik. Nah pilihan kami jatuh pada menyewa mobil lengkap dengan drivernya. Hmm kesannya sok yah, ada beberapa pertimbangan yaitu cuaca yang nggak menentu dan berhubung ini kali pertama saya ke Belitung jadi saya belum 'ngeh sama keadaan jalan disana.

Kalau dihitung-hitung sebenarnya biaya sewa mobil dan bensin selama 2 hari memang cukup mahal yaitu 350 ribu /hari dengan supir diluar BBM atau pilihan 250 ribu/ hari mobilnya saja. Setelah dipikir-pikir dari pada nyasar mending sepaket aja deh. Masih ngerasa berat? hmmm.. coba ajak orang yang kamu temui di bandara atau dipesawat yang tentunya sama-sama wisatawan (hal ini saya lakkukan dan akan ada cerita tersendiri).

Hari pertama kami hanya punya setengah hari karena terpotong sholat Jumat. Nah setelah para lelaki sholat jumat baru kami menyusun rencana. hmm awalnya agak tarik ulur masalah tujuan pertama. Pak Sukri menyarankan untuk "berlayar" ke pulau-pulau terlebih dahulu namun teman baru saya menyarankan ke belitung timur terlebih dahulu. Hmm setelah perbincang akhirnya kami putuskan untuk menyambangi pulau-pulau kecil terlebih dahulu.
Pantai Kelayang
Pantai Kelayang akhirnya menjad tujuan pertama kami, bukan untuk berenang atau meniknati indahnya tapi untk mencari perahu. Ombak dan angin yang besar membuat kami hampir tak jadi "melaut" menuju pulai Lengkuas, pulau yang selalu disebut kalau ada cerita mengenai Belitung. Dengan kegigihan dan rayuan plus sedikit memelas tambah keyakinan juga janji akan menanggung sendiri resiko yang ada akhirnya kami menyebrangi lautan yang lagi lucu-lucunya menuju Pulau Lengkuas dan beberapa pulau lainnya.


Setelah beberapa kali dihantam ombak, mulai yang excited banget sampai udah lemes lantaran kelamaan dilaut akhirnya dari kejauhan terlihat juga si menara putih tujuan kami. Yes Pulau Lengkuas!!!! Dan kami pun mendarat dengan selamat, sentausa dan sejahtera setelah hampir batal kesana.


Apa yang menjadi tujuan kita ke pulau Lengkuas? *ngomongnya ala dora* 
Menara Menara.. MEERCUUSUUAARR!!!
Weits setelah menaiki tangga sekian belas lantai sampai sakit pinggang maka terbayarlah sudah dag-dig dug dilaut dan sakit encok kala naik tangga. Hmm sebenernya sebelum sampai puncak pun kita sudah bisa mengintip keindahan pulau ini dari jendela yang ada disetiap lantainya. Tapi begitu sampai di puncak menara.. taraaaaaa.. pemandanganpun semakin dahsyat


Segitu aja? Iya emang segitu aja tapi saya cukup puas melihat pemandangan pulau ini dengan mata kepala sendiri, oh iya gambar diatas cuma diambil pakai kamera ponsel lhoo dan nggak masuk photoshop sedikitpun. 

Setelah jeprat-jepret pemandangan yang aduhai dari mercusuar dan tentunya sedikit berbincang dengan para penjaga mercusuar akhirnya kami pamit dari pulau paling ujung ini (paling jauh dihitung dari tanjung pendam lho). Oh iya kalau mampir kesini jangan lupa siapkan uang 5.000 rupiah/orang untuk dimasukan kekotak ajaib yang ada di depan pintu mercusuar. Uang tersebut akan digunakan untuk pemeliharaan kebersihan sekitar mercusuar dan tentunya sedikit berbagi rezeki dengan bapak-bapak penjaga mercusuar. Oh iya bapak penjaganya berasal dari Jakarta lho, Jauh yah? Tapi menurut mereka sih "namanya juga tugas Jadi harus siap". Oke pak semangat!

Tujuan berikutnya adalah pulau Babi kecil, pulau ini (nampaknya) merupakan pulau tidak berpenghuni karena emang kecil banget hehehe.. spekulasi. Disini kami bisa foto-foto dengan latar pulau Babi Besar atau (katanya) dikenal juga dengan pulau Kepayang yang memiliki banyak batu besar. Buat yang mau basah-basahan disini juga bisa lho...

Sebenarnya banyak tujuan pulau yang bisa disinggahi seperti pulau burung dan kalau beruntung kita akan menemukan pulau pasir yang menyembul dari lautan. Sayangnya selain terlalu sore, kemarin laut juga sedang pasang sehingga pulau pasir hanya malu-malu menyapa kami. 

Sebelum kembali ke Kelayang kami menyambangi pulau Kepayang yang tidak hanya menyajikan batu besar dan pasir yang halus tapi juga menyajikan hijaunya "hutan mini". Dari pulau-pulau yang kami sambangi, pulau ini merupakan satu-satunya pulau yang dilengkapi dengan panginapan, nggak tanggung-tanggung 4 Buah bungalow pinggir laut dan sebuah safari tent seperti membuat saya ingin bermalam disana. Oh iya disini juga terdapat penangkaran penyu lho.

Omong-omong tentang pulau ini, kalau kata teman saya mah kalau disini serasa bisa nikmatin hidup. Soalnya selain privat banget disini juga bagus banget lautnya dan Thailand mah lewat deh (kata dia lho, saya kan belum pernah kesana). Nah selain menyediakan penginapan yang kamar-kamar disini kiga ada paket backpacker lho, cuma dikenakan biaya 30ribu perorang itung-itung pemakaian air dan listrik aja. Masalah tidurnya? Silahkan bangun tenda atau ngumpet di sleeping bag diatas pasir. Kalau mau yang "enak" sedikit bisa juga sewa barak dengan harga 65ribu/orang dan baraknya muat sampai 15 Orang. Hmmm silakahn Pilih lho.

Sayangnya saya nggak sempet foto-foto disana pakai HP karena kehabisan daya dan nggak nemu listrik juga sih. Makanya fotonya nyusul yah menunggu dari yang bawa kamera dulu hehehe... Hari yang semakin sore memaksa kami untuk kembali ke Kelayang dan terpaksa berpisah dengan yahudnya pulau Kepayang yang memang aduhai. 

Berdasarkan perjalanan kali ini dengan quotes dari si teman maka yang terlintas di otak saya adalah ternyata Indonesia nggak kalah lho dari negara luar yang sekarang sedang naik daun dengan pariwisatanya. Ini Indonesia dan Ini "cuma" Belitung lho, sebagian keciiiiiiil dari Indonesia.

Cerita ini sata buat sebagai cerita hari ke 19 #30HariBercerita

Selasa, 22 Januari 2013

Indonesia Nggak Cuma Bali apalagi Bandung!

Banyak orang di Indonesia hanya pergi ke kota-kota yang sama
Libur ke Singapore atau ke Malaysia, weekend ke Bandung, pulang ke Jakarta
Hanya tahu tentang Indonesia dari berita TV dan koran saja
Bukalah kopermu, isi dengan baju, banyak destinasi yang bisa dituju
(Pandji Pragiwaksono - Lagu Melayu)

Mungkin bagi sebagian orang sudah mengetahui kalau Indonesia itu luas, tapi banyak dari orang yang tau itu nggak tau kalau Indonesia benar-benar luas dan kaya dengan alamnya (nah lho agak belibet yah). Apa yang terlintas di benak sebagian orang di Jakarta saat saya menghadapkannya pada kata "liburan"? Hmm banyak yang langsung terlintas Bandung atau sedikit lebih jauh Bali atau sekalian ke luar negeri (kalau ada duit dan ada pasport :p). Kenapa Bandung? karena tentunya dekat dan bisa belanja. Lalu kenapa Bali? Yah karna memang saat liburan Bali dipadati banyak orang dan coba saja cek setiap ada maskapai yang promo dengan harga murah, penerbangan weekend ke bali dalam kurun promo itu pasti saja yang paling cepat habis. Iyah kan?? ngaku deh.

Oke cerita dan jargon lama kalau Indonesia nggak cuma Bali dan Bali ada di dalam Indonesia, tapi selama jargon itu dikumandangkan masih banyak lho orang-orang yang masih menjadikan Bali sebagai pilihan pertama destinasi liburan mereka. Sebagai negara yang (katanya) memiliki garis pantai terpanjang di dunia, harusnya Indonesia punya ratusan bahkan ribuan pantai yang jadi primadona sebagai destinasi wisatanya. Hmmm.. Ya kali dari 33 provinsi selalu aja 1 provinsi yang juga 1 pulau itu yang jadi primadonanya lagi pula selain pantai Indonesia masih punya pilihan objek lain selain pantai. Hey Mba, Mas, Oom, Tante Indonesia punya gunung, Danau, Sungai dan lainnya lho jadi nggak melulu pantai.

Kalau boleh jujur memang sekarang ini sudah banyak destinasi yang "agak" terangkat dan dijadikan alternatif liburan bahkan bagi sebagian orang (yang lain) dan justru destinasi-destinasi tersebut lah yang dijadikan incaran. Saya sendiri memang belum pernah mengelilingi luasnya Indonesia bahkan bisa dibilang saya adalah tukang jalan-jalan (kalau sebutan traveler tampak terlalu berat buat saya) yang beraninya didalam pulau dan baru kali ini saya bermain di luar pulau saya dan.. Wow pulau kecil ini pun mampu memukau saya. Tak terbayang bagi saya pulau-pulau lain disana bagaimana indahnya.

Sawarna (Banten), Teluk Kiluan (Lampung), Belitung (Babel), Raja Ampat (Papua Barat), Manado Tua (Sulawesi Utara), Derawan (Kalimantan Timur) dan beberapa tempat lainnya bisa dibilang jadi beberapa destinasi pantai/laut yang mulai menjadi kuda hitam ditengah "Bali Sentris". Sayangnya memang fasilitas dan transportasi disana belum semegah di Bali, tapi yah buat saya perjuangan transportasi kesana pasti akan terbayar dengan alam yang tersaji.

Mau belanja? Jangan cuma ke Bandung. coba tengok kota Tasik dengan Rajapolah-nya yang jadi pusatnya para pengerajin sulam dan payet juga kerajinan tangan. Bila berkunjung ke Yogyakarya jangan hanya tour kota tapi sempatka mampir ke kota Gede yang jadi pusat kerajinan perak. Untuk warga Ibu Kota yang mau main aman dengan libur singkjatnya coba lupakan Bandung dan kembali ke Bogor yang mulai ramai dengan kuliner dan pastinya Kebun Raya yang Asri atau main Air di The Jungle. Hmm sebenarnya wisata belanja ini juga bisa lho jadi pilihan saat wisata alam nggak memungkinkan.

Kalau ada yang mau bilang saya lebay silahkan lho tapi saya pernah berkata kalau akan nggak pernah jalan-jalan kie luar negeri dengan uang sendiri (beda kalau dibayarin) sebelum seenggaknya nginjekin kaki di 5 pulai besar di Indonesia. Hmmm kenapa? karena saya mau saat saya ke luar negeri nanti saya bisa dengan mudah membandingkan dengan yang negara saya punya. Kalau memang disana tak sebagus di Indonesia kita boleh berbangga namun jika disana lebih bagus di Indonesia kita harus mengapresiasi dan berusaha bagaimana destinasi disini bisa sebagus disana. Jadi sudah siapkan koper? atau cari penerbangan murah keliling Indonesia? semua tergantung style kita saat bepergian.


Apabila kau ragu untuk menjelajahi negrimu

Perjalanan pesawat tak makan waktumu kecuali Papua hanya setidurmu

Siapa lagi kalau bukan kamu yang jadi duta untuk bangsamu

Negri yang kaya kamupun tahu sekarang giliran dunia yang tahu
(Pandji Pragiwaksono - Lagu Melayu)




Cerita ini sata buat sebagai cerita hari ke 18 #30HariBercerita

Sabtu, 19 Januari 2013

Temperature Shock!

Waduh apa lah ini temperatur shock. Oke, kalau biasanya orang yang pindah dari satu kota ke kota lain mengalami shock culture karena perbedaan kultur nah itu sih nggak berlaku buat saya tapi perbedaan cuaca dan temperatur yang begitu aduhai.

Masih ingat cerita saya tentang betapa basahnya jakarta kemarin? Sekarang saya berada ditempat yang benar-benar kering dan berangin. Hmmm benar kata orang, cuaca di Jumat siang itu pilihan nya cuma dua yaitu ujan atau panas banget. Nah kali ini cuaca Belitung ada di pilihan kedua. Hmmm kebayang dong rasanya nih badan? Macam jemuran kering!!

Sebagai orang yang habis nerabas jalan tol yang banjir dan diguyur hujan berhari-hari begitu ketemu cuaca yang terlalu cerah, wah pastinya seneng banget lah. Badan macam jemuran baru kering, Ups tapi semua berubah setelah 10 menit menikmati cahaya matahari.. Mulai kerasa panasnya cyn macam nusuk ke kulit..

Berhubung nggak lama pertama dari menginjakan kaki di pulau belitung ini saya langsung menuju ruangan ber AC dan kendaraan yang ber AC pula jadi efeknya belum dahsyat. Nah begitu mulai beraktivitas diluar ruangan hmmm baru lah terasa, selain kulit perih keringat pun mengucur dasyat.

Ingin rasanya saya kirim matahari ke Jakarta supaya air banjir itu menguap dan pastinya cucian yang dijemur kering, sekering baju saya.

Jakarta 17/1
Belitung 18/1



Bandingkan
Antara Jakarta dan Belitung sehari kemudian





cerita ini ditulis untuk #30HariBercerita hari ke 17

Minggu, 13 Januari 2013

Semua Bisa Kemana

Kalau kata orang-orang di kantor saya, orang Indonesia itu kurang sadar wisata dan nggak menjadikan kegiatam wisata sebagai sebuah kebituhan. Weeeew kata siapa? Coba tengok teman-teman saya dan tentunya saya sendiri. Buat kami berwisata itu semacam lada didalam sayur sop, kalau nggak ada yah sebenernya nggak apa sih tapi kalau ada hmmm tambah maknyooos lah.
Nah jadi ceritanya malam ini saya dan temen-temen lagi ngobrol lala-lili ngalor-ngidul ngobrolin kereta api, kebetulan ada seorang teman yang kerja di call centernya dan tercetuslah ide gila untuk jalan-jalan ke Pacitan yang katanya punya pantai bagus banget. Maka jadi lah obrolan masalah tanggal, akomodasi dan kebutuhan disana. Hmmm.. baik lah.
Nah kalau udah gini, berarti udah sadar banget kan sama wisata hahaha... Hmmm nggak cuma mereka sih yang bisa seenaknya mau bepergian sesuka hati, dulu saya juga begitu kok. Jaman dulu nih kalau skip dikit bawaannya mau beli tiket kereta nah kalau sekarang kalau skip dikit bawaannya ngecek harga tiket pesawat. Hmmm meskipun beda alat transportasi tapi kan tetep jalan-jalan bukan?
Nih ya kalau dipikir-pikir sekarang ini harusnya semua orang bisa jalan-jalan karena transportasi makin oke punya. Dulu lungkin kalau mau jalan-jalan kudu pake bus atau kalau mau cepet pake kereta meskipun waktu tempuhnya tetep alakazam sih. Nah mau naik pesawat duh jaman duku mah harganya ampun-ampunan mahalnya  atau naik kapal laut yang juga lama bgt nyampenya.
Bandingkan dengan sekarang, waktu dimana kereta udah lumayan cepet dengan berbagai pilihan jadwal dan kelas, kalau mau naik bus pun udah mendingannlah seenggaknya jalan lintas kota dan provinsi udahnpada diaspal dan kalau mau naik pesawat terbang wuuiih udah banyak banget low budget air lines mau kemana tinggal pesen duh tapinkalau utusan kapal laut aye belom tau juga ye tapi kata orang-orang di blog sana sih udah ada kapak penyerangan yang nyama  banget dan mulai meningkat kecepatat kapalnya. Bah kalau gini asik banget Iya kan?
Hmmm dengan gampang dan semakin bervariatif pilihan moda transportasi harusnya semua orang bisa mengunjungi berbagai tempat setidaknya di pulaunya, terus di negaranya dan baru nanti ke negeri lain.  Eh kira-kita orang dulu ngebayangin nggak yah kalau sekarang semua orang bisa bepergian kemana aja asal bisa beli tiket yah itu apalagi dengan gencarnya promo sana-sini  dari maskapai yang kayanya bertatif rendah.
Well sekarang semua bisa kemana tinggal sesuaikan dengan stok lembaran di dompet, nominal di rekening dan waktu senggang saja... selamat kemana-kemana wahai siapa - siapa ;)

Selasa, 04 Desember 2012

Ngubek Jakarta : Karilam Gang Gloria yang Super!!!



Apa yang terlintas dipikiran kalau mendengar kata Kari?? pasti mengarah ke india atau daerah timur tengah. lalu gimana kalau saya cerita tentang salah satu makanan favorit saya di pecinan adalah kari, ya namanya adalah kailam.

Ada yang bilang karilam berbeda dengan kari atau karee tapi buat saya sama-sama bertabur rempah. oke, emang sih rempah di karilam berbeda dengan kari timur tengah soalnya bagi saya yang nggak suka rempah yang menyengat kari lam ini cukup enteng dan masuk banget.

Seperti yang saya pernah cerita di "Petualangan di Gang Gloria" karilam ini berada di ujung gang gloria. Oh iya, Karilam yang dijual disini terdiri dari dua varian yaitu ayam dan sapi jadi bisa sedikit tenang lah ya makannya hehehe... 

Untuk varian ayam yang dipakai (tampaknya) adalah ayam kampung. sedikit spekulatif sih tapi soalnya pas saya minta banyak tulang eh ternyata tulangnya keras banget dan nggak bisa dikuntah selayaknya tulang ayam di fast food. Nah karena itu lah muncul hipotesis (tsah gaya bet bahasanya) tentang jenis ayam yang dipake kalau nggak ayam kampung yah ayam pejantan tapi meskipun yang itu masih nebak-nebak tapi rasanyasih udah pasti.. pasti enyaaaak..

Varian lain adalah karilam sapi. Jujurn nih yah karena saya nggak ngarti masalah dunia persapian maka analisis saya mengenai karilam varian ini adalah ENAK! lha? yah karena enak beneran hehehe... dagingnya itu loh berlimpah dan dikit banget gajih-nya bahkan tampaknya hampir semua daging. Pool banget kan?

Kalau hidup aja butuh pendamping makan karilam pun butuh pendamping saat dimakan (hallaaah) kenapa? alesannya cuma satu, biar kenyang! pendamping ini adalah nasi dan misoa. Msoa itu semacam mie tapi tipis yah lebih besar dari bihun lah dan bahan dasarnya terigu. Kalau makan pakai misoa karilam langsung disiram di atasnya dan disajikan di mangkok super besar sedangkan kalau disajikan dengan nasi maka karilam disajikan secara terpisah.

Masalah harga? siap-siap merogoh kantong yah, karena satu porsi karilam dan pendampingnya harus ditebus dengan 23 ribu rupiah jadi siapin aja 25 ribu biar ada sisanya hehehe... tapi nih tips dari saya supaya sedikit ngirit adalah kalau kesana lebih baik berdua jangan sendiri jadi beli aja karilam satu porsi terus tinggal nambah nasi satu lagi deh hehehe.. soalnya ini porsinya seriusan gawat banget (saya aja makannya sampai capek :p).

Oke, jadi gimana? masih penasaran sebesar apa porsi karilam? ya udah yuk langsung kita meluncur...

Ngubek Jakarta : Lost in Pecinan-Glodok


Ingin merasakan serunya negeri tiongkok? apalagi jajanannya? hmmm nggak usah jauh-jauh karena di Jakarta pun kita bisa bergaya macam di tiongkok sana... apa sih yang nggak ada di Jakarta? Oke kemana kita? pastinya ke daerah pecinan atau china townnya Jakarta yaitu kawasan Glodok.

kali ini saya dan teman-teman akan menyusuri gang-gang kecil di pasar glodok. Taukah kalau ternyata di gang-gang tersebut banyak sekali lah seru dan makanan enak? ada wotie dan banyak jajanan lain. buat yang suka masak bisa juga belanja keperluan dan bahan masakan di toko-toko yang ada disana. yuk mari kita berangkat...

Sudah siap? weits coba cek dulu tips capruk dari saya sebelum kita mengembara ke pecinan Glodok.

Tips jalan-jalan ke pecinan ala Ucha
  • Gunakan pakaian yang nyaman misalnya kaos dan celana pendek karena ini bukan mall sob! jadi siap-siap aja sedikit berkeringat
  • No Heels! sekali lagi ini bukan mall tapi pasar dan kemungkinan besar kita akan jalan kaki menyusuri gang-gang senggol
  • Jangan lupa deodoran! keringet boleh ngucur tapi nggak dengan bau badan.
  • Bawa uang secukupnya, cukup untuk makan wo tie, cukup untuk beli kue, untuk belanja barang-barang unik pokonya secukupnya ya :P
Sudah siap? mari kita mulai dari video... baru kita brangkat :) 




Minggu, 02 Desember 2012

Lembut-Renyah Wotie ala Pasar Glodok


Sekilas makanan ini mirip dengan Gyoza yang berasal dari Jepang, juga hampir serupa dengan Suie Kiaw alias pangsit basah yang biasa kita temukan. Weits, ini serupa tapi tak sama, memang beda tapi sama-sama enak. hehehe...

Nggak perlu jauh-jauh ke negeri tiongkok untuk makan makanan enak ini karena di Jakarta pun ada lho... Warung Wotie ada beberapa di Jakarta, biasanya di kawasan pecinan atau perumahan orang-orang keturunan tiongkok, maklum makanan ini memang berasal dari negeri tiongkok sana. Kali ini saya mencoba wotie di kawasan Petak 9, Glodok Jakarta.

Awalnya saat teman mengucapkan kata "wotie" yang saya tangkap adalah kuetiaw hahaha.. maklum namanya asing buat saya. Oke, akhirnya saya mengikuti dia masuk ke gang kecil di seberang gang gloria.

Menyusuri gang-gang kecil mungkin menjadi satu dari sekian banyak hobi saya, berbekal dengan prinsip nggak masuk gang makan nggak akan menemukan makanan enak maka saya memutuskan untuk "ngubek" gang-gang kecil dikawasan pasar Glodok dan benar saja saya dipertemukan dengan masakan unik ini lewat perantara seorang teman (#tsah).

Warung Wotie disini agak tertutupi oleh toko-toko dan meja-meja penjual makanan jadi harus jeli melihatnya. Oh iya disini nggak cuma jual wotie tapi juga menjual suie kiaw alias pangsit rebus, maklum aja adonannya emang sama

Seperti yang saya bilang di awal, saya kira ini adalah gyoza tapi ternyata sedikit berbeda. Ngomongin tekstur, wotie ini agak unik karena bagian bawahnya agak krunchy tapi bagian atasnya lembut banget. Nah lho semacam labil dia.

Ternyata komposisi garing dan lembut itu berasal dari cara memasaknya yang juga unik. Wotie dimasak dengan cara setengah digoreng, jadi yang terendam minyak hanya bagian bawahnya sedangkan bagian atasnya akan matang dengan uap air yang ada karena (kalau nggak salah) nantinya minyak akan diber percikan air kemudia ditutup tapat. Oh iya ketika digoreng, Wotie disusun sedemikian rupa secara padat didalam penggorengan yang mirip dengan loyang untuk martabak manis.

Hmm.. soal rasa? jangan ditanya kalau kulitnya aja enak apalagi isiannya.Isi Wotie adalah daging cincang yang dicampur dengan pe cai, bawang merah dan bawang putih.

Di warung Wotie yang saya kunjungi ini kita bisa liat pembuatan makanan enak ini, setidaknya dari menggiling kulit, memasukan isian sampai menggoreng. Karena menggoreng nya sekali banyak maka kita nggak perlu menunggu lama menunggu dari saat memesan hingga makanan datang.

Yang uniknya lagi, wotie dimakan dengan sederetan saus pendamping yang harus diracik sendiri dari bawang putih segar yang dicincang, kecap asin, cuka hitam dan minyak wijen. Buat yang mau menambahkan sensasi pedas disediakan saos sambel, sambel ulek dari cabai segar atau bisa juga minta merica bubuk.

Nah kalau sausnya udah diracik dan wotienya udah datang maka mari kita makan :)

Masih penasaran? silakan intip videonya