Tampilkan postingan dengan label makan jajan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label makan jajan. Tampilkan semua postingan

Jumat, 21 Agustus 2015

Borneo : Pulau Seribu Rasa, Sejuta Misteri. Kalimantan!

Borneo, bagi saya itu adalah sebuah pulau yang menyimpan banyak misteri. Nggak cuma urusan alam dengan hutan belantara dan aliran sungainya yang aduhai, tapi juga budaya dan tentunya kekayaan kuliner yang tersimpan bersama beragam masyarakat yang ada didalamnya.

Ada kawan yang pernah bilang pada saya, kira-kira seperti ini lah : "Cha, sekali minum air Kalimantan nanti pasti ingin balik lagi". Percaya nggak percaya sih, tapi tampaknya tanpa ungkapan itu pun, Kalimantan akan menjadi destinasi yang nggak mungkin tuntas dengan 1 kali singgah apalagi hanya penghibur akhir pekan. Setuju?



Keinginan saya untuk menjelajah Kalimantan kembali membuncah saat tau akan ada Terios 7 Wonders Borneo Wild . KALIMANTAN!

Membayangkan melakukan perjalanan darat menembus jalan lintas Kalimantan sebenarnya sudah cukup membuat saya menggidik, bukan karena takut tapi justru super semangat. Sebagai penikmat perjalanan tentu sudah membayangkan akan ada banyak cerita selama perjalanan, apalagi ditunjang dengan kendaraan senyaman Daihatsu Terios yang adalah "Sahabat Petualang" wiiih nggak ada deh cerita yang tercecer karena jalan pintas lewat udara.



Kalau dilihat dari peta perjalanan yang ada di situs resmi Terios 7 Wonders Borneo Wild Adventure perjalanan kali ini akan melewati 3 Provinsi sekaligus mulai dari bagian tengah, selatan dan timur. Dan yang bikin berdebar lagi perjalanan akan dilakukan sekitar 10 hari dengan mayoritas adalah perjalanan darat tentu bersama "Sahabat Petualang" kita, Daihatsu Terios ! Tunggangan berkapasitas 7 orang yang nggak cuma tangguh di alam tapi juga kece berat saat melewati jalanan kota.

Kenapa saya nyinggung jalanan kota? Bagi saya bertualang nggak sebatas keluar-masuk hutan dan naik-turun gunung tapi kota juga menyimpan petualangan tersendiri. Mungkin karena itu jugalah  Terios 7 Wonders Borneo Wild memasukan Palangka Raya, Banjarmasin dan 2 kota besar lainnya yaitu Balikpapan dan Samarinda dalam peta perjalanannya. Meski bukan menjadi tujuan utama, tapi apa jadinya sebuah tujuan tanpa perjalanan yang mengasyikan?

Jumat, 07 Februari 2014

Serangan Pagi Tinutuan dan Nike Goreng


Warnanya yang kuning segar membuat makanan ini tampak menarik terlebih lagi dengan taburan abon roa diatasnya, wah sedap!


Buat beberapa orang tinutuan atau yang dikenal dengan bubur Manado sama sekali bukan makanan yang menarik jika dilihat dari bentuknya. Sssst buat saya orang yang bilang itu berarti belum pernah nyobain ini makanan. Huh rugi banget sih ngeliat makanan dari bentuknya aja.

Oke, saya emang nggak menyangkal kalau makanan yang satu ini bikin sebagian orang nggak selera, maklum aja warnanya yang orange menyala berpadu dengan dedaunan didalamnya plus bulir-bulir jagung bikin bentuknya agak nggak karuan. Kurang cantik lah untuk dilihat. Weits tapi ini kan makanan yah jadi bukan buat dilihat aja tapi untuk dimakan dan lidah lah yang bisa menilainya.

Kamis, 06 Februari 2014

Kopi Sore bersama PIsang Goroho dan Kopi Kotamobagu

Masih dari Kota Manado dan masih bercerita tentang kuliner Manado 
(*dibaca dengan gaya penyiar tahun 90an)

Jalan-jalan di kota Manado memang harus dengan perut yang selalu kosong atau yah setengah kosong lah, entah berapa banyak jajaran makanan dan minuman yang menjadi khas kota ini. Kali ini saya mencoba kudapan Pisang Goroho ditemani Kopi Kotamobagu sambil menikmati sore dan berbincang santai bersama kawan.
+ cha mau pisang goroho nggak?
-  pisang diapain Oom?
+ hmmm apa yak, yah pisang digoreng nanti makannya pakai sambal
-  mauuuuuuuuuu
Awalnya saya kira pisang goroho ini adalah pisang goreng yang biasa saya jumpai di abang-abang tukang gorengan di Jakarta terus dicocol di sambel. Kalau ini sih udah nggak aneh buat saya, soalnya disebuah kedai kopi khas Manado di Jakarta saya sering memesan kudapan ini.

Tapi.. oow.. yang keluar bukan lah pisang bersalut terigu yang digoreng melainkan keripik pisang masih hangat yang baru saja digoreng disajikan dengan sambal. Haduh mau komplain tapi nggak enak euy. Dipikir-pikir yah nggak salah juga sih soalnya dia emang bilang pisang yang digoreng hee...

Manado ooh Manado, Bumi Kawanua yang Damai

Saya : Jessi.. gimana keadaan disana
Jessi : Cuma kota sama beberapa kecamatan yang sama pusat kota mba yang berantakan
Saya : Markas kota aman? Markas Provinsi?
Jessi : Aman markas provinsi.alun-alun tikala tempat belanja souvenir,itu jadi lautan lumpur
Itu lah penggalan percakapan saya dengan seorang kawan di kota Manado. Bencana banjir dan longsor yang menimpa ibu kota Sulawesi Utara pada Januari lalu mengingatkan saya akan kunjungan pertama kali ke pulau Sulawesi dan semua baik-baik saja. Entah bagaimana keadaan kota itu sekarang, mungkin saya belum lagi bisa menyusuri jalan Sam Ratulangi dengan santai atau Jalan Piere Tendean yang ramai itu. Sekarang saya hanya bisa menerima update berita dari kawan-kawan PMI yang ada disana yang dengan sigapnya memberikan pelayanan saat Manado terkena banjir bandang.

Karena terlalu banyak berita buruk tentang kota itu setelah dilanda banjir bandang kemarin, saya justru jadi teringat betapa kota itu cukup menyenangkan. Kota besar yang sederhana dan nyaman untuk menghabiskan sore bersama kawan atau sekedar menghabiskan hari dengan berjalan kaki sambil lirik-lirik warung makan yang bertebaran. Jadi boleh yah saya cerita tentang kunjungan saya Juli 2013 lalu :)

Rabu, 30 Januari 2013

Oleh-oleh khas Belitung dari Bu Mus


Masih sisa perjalanan dari Belitung. Kali ini saya akan berbagi "hasil" dari bertemu Bu Mus.

Setelah novel dan Film Laskar Pelangi booming, siapa yang tak mengenal Bu Mus atau Bu Muslimah. Dia adalah tokoh guru dari anak-anak laskar pelangi yang ceria. Tentunya yang kali ini saya temui bukanlah Cut Mini yang berperan sebagai Bu Mus dalam film Laskar Pelangi tapi Ibu Muslimah yang sebenarnya, guru dari Andrea Hirata.

Sebenarnya "mampir" ke rumah bu mus tidak ada dalam agenda saya karena memang tidak ada akses, namun karena keinginan seorang teman yang menggebu-gebu dan dengan bantuan seorang teman yang lain maka akhirnya hari kedua saya di Belitung saya menyambangi Belitung Timur dan menyempatkan diri bertemu sang Ibu Guru.

Perempuan berbadan kecil itu menyambut kami dengan hangat dan ramah juga sedikit cerewet, mungkin karena dia guru jadi dia bisa menerima bocah-bocah macam kami dengan sabar. Obrolan hilir mudik mengenai murid-muridnya dan kehidupan pribadinya pun mengalir begitu saja dan untungnya dijawab dengan santai oleh guru yang baru berhenti mengajar tak lama ini.

Foto Gangan Nanas yang diambil dari blog tetangga
Nah kalau teman-teman saya banyak bertanya mengenai "laskar pelangi", sebagai cewek satu-satunya dan sebagai satu-satunya "ibu" yang ngobrol dengan saya maha ada obrolan khusus diantara kami berdia. Ooo bukan curhat tentunya tapi nanya resep masakan khas belitung hehehe.. nggak mungkin juga kan saya nanya ke rumah makan.

Kalau Bangka punya Lempah, Jawa Tengah punya Garang Asem nah untuk yang kuah-kuah Belitung punya Gangan. Sebenernya nggak mirip sih semua makanan itu tapi yah berkuah-kuah dan seger-seger deh.

Dan dengan bangga saya persembahkan Resep Gangan ala Bu Muslimah, yang berhasil saya catat.

Bahan-Bahannya adalah :
- Ikan Laut (kata bu mus biasanya ilak atau bisa juga ikan bulat. Hmm ikan kuwe kali yah bisa)
- Serai(2-3 batang dikeprek aja semacam dimemarkan)
- Nanas
- Pucuk daun kedondong (ini akan menghasilkan efek asyeeem. Kalau nggak ada coba ganti dengan belimbing wuluh atau air jeruk nipis)
- Asam Jawa (ambil airnya aja sedikit)
- Garam dan gula putih (secukupnya sesuai lidah)  
Bumbu yang dihaluskan
- Kunyit (3 ruas jari)
- Kemiri (3 Butir)
- Laos/ Lengkuas (sedikit aja)
- Bawang Merah (lupa nanya berapa banyak)
- Cabe Rawit (sekuatnya)
- Terasi
Caranya?
- Rebus Bumbu halus, serai dengan sepanci air
- Setelah ikan dicuci bersih masukin ke rebusan
- masukan nanas dan bahan-bahan yang bisa mengeluarkan rasa asam
- Selesai :)

Diwarung makan pun ada Gangan (tebak yang mana hayo)

Saya sih belum pernah nyobain bikin masakan yang satu ini tapi sebagai ibu-ibu  saya percaya aja deh sama Bu Mus yang udah puluhan tahun juga disana :)

Oh iya, Bu Mus juga memberikan alternatif lain untuk Gangan ini yaitu Gangan dengan ikan air tawar. Bedanya Gangan ikan laut dan ikan tawar terletak pada bumbu dan pelengkapnya. Untuk Gangan ikan air tawar TIDAK menggunakan bawang merah melainkan menggunakan bawang putih. Untuk pelengkapnya pun nggak pakai nanas tapi daun singkong. Sebenarnya sih nggak cuma daun singkong tapi dedaunan lainnya juga bisa termasuk daun-daun yang asing ditelinga saya, asal jangan daun pintu aja deh.

Mungkin agak gimana gitu yah berbagi resep tanpa mencobanya tapi yah kan nggak tau rasanya kalau belum ada yang nyoba heheh.. jadi siapa yang mau nyoba duluan? :)

#25

Senin, 28 Januari 2013

Seruput Mie Belitung


Jangan bayangkan kalau wujud mie belitung akan mirip dengan mie tetangga pulau yang sudah tenar terlebih dahulu yaitu mie Bangka. hmmm jujur tadinya saya sempat membayangkan seperti itu lho hehehe.

Perburuan mie belitung ini agak tertahan beberapa saat, karena warung mie favourite disana sudah waktunya tutup begitupun hari kedua pencarian. Padahal kami sudah didepan warung lho, sayangnya mie udah abis. Daripada kenapa-kenapa jadi wisran alias wisatawan penasaran jadi aja kami langsung random warung mie.

Karena penasaran dengan wujud dan rasa mie Belitung akhirnya kami nekat masuk ke warung mie yang tak jauh dari warung mie Atep yang favorite itu, tapi saya lupa nama warung yang ini. Hadeuh yah walau nggak dapet yang paling TeOPe BeGeTe nya tapi yang penting nggak penasaran deh sama jenis masakan mie yang satu ini.

Seporsi mie Belitung telah ada di depan saya dan tarraaaa bentuknya jauh dari mie bangka dan lebih mirip lomie dengan kuah kentalnya. Kecewa? Oh tentu tidak! Justru wujudnya yang agak asing ini lah saya jadi makin penasaran dengan rasanya. Mari kita coba!

Kuah kentalnya benar-benar sodaraan sama lomie, cuma ini agak manis bahkan terlalu manis karena memang ditambahkan gula merah atau gula jawa sebagai pewarna alami. Lha? Kata penjualnya sih kalau cuma kuah kental sagu aja nggak menarik dan rasanya flat jadi aja sedikit ditambah gula.


Soal isian, hmmm coba tebak apa saja isinya? Yang pasti adalah Mie, ini semacam mie basah gitu. Terus ada toge, kentang, tahu, timun dan emping tak lupa ngumpet beberapa udang. Kalau di mie Atep ditambahkan juga semacam perkedel untuk isian nya, di warung ini tampaknya nggak ada.


Soal rasa? hmmm terlalu manis buat saya. Padahal saya sudah pesan nggak pakai kecap lho.. Buat penyuka makanan manis mungkin mie belitung bisa jadi favorit. Buat penikmat makanan pedas? hmm gampang tersedia sambal cabai sebagai pelengkap memakan mie ini juga jeruk kunci yang segar kalau mau sedikit rasa asam segar didalam mie.


Hmm gimana sudah terbayang rasa mie yang biasa ditebus dengan harga 10 ribu rupiah ini? Silahkan mampir ke warung-warung mie belitung yang ada di pulau ini dan kalau rekomendasi saya sih Warung Mie Atep masih juaranya dibanding mie yang pertama saya makan. Selamat mencoba. 



#22

Kamis, 17 Januari 2013

Samwon House : Terseret ke Istana Korea

Agak bosan untuk bercerita tentang keseharian saya, hmm kali ini saya mau cerita tentang tempat makan asoy yang harusnya saya tulis beberapa hari yang lalu.. yuks mari kita makan..

Kali ini saya dan dua orang teman melenggang ke sebuah resto masakan Korea bernama Samwon House yang terletak di Setiabudi One Building, Jakarta. Hmmm letaknya yang dilantai dasar harusnya nggak membuat kita kesulitan mencarionya. Tapi dasar memang kami terlalu terpaku dengan akuarium restoran yang ada disebrangnya jadi aja kami sempat melewati Samwon tanpa sadar lokasinya.

Oke, karena pakai voucher dari salah satu website diskon maka kamu bertika memesan makanannnya agak brutal, maklum aja kami memengang voucher 3 x 450 ribu alias 450 ribu.. wah banyak yah?

Masuk ke Samwon kita akan merasakan sensasi ruangan yang korea banget. Terdapat dua pilihan tempat duduk yaitu lesehan (minimal untuk 6 orang) dan kursi biasa. Kursi dan meja pun ada dua jenis yaitu yang memakai bakaran dan nggak.



Ada 3 menu yang kami pesan yaitu Bulgogi (2 porsi) lalu semacam shaubu-shabunya yaitu Sosogi Jeongol untuk porsi 4 orang dan Nakji Bokkeum hmm banyak yah :p Sekararang mari kita bedah satu-persatu. Oh iya, waktu nunggu makanan datang kita langsung disodori Banchan lho.


Bulgogi sih semua udah tau lah ya, daging panggang ala korea yang dimakan bersama "lalapan" ala korea hehehe maksudnya selada, wortel dan hmmm itu katanya sih daun wijen tapi ngga tau sih itu aslinya daun apa. Oh iya jangan lupakan bawang putih segarnya. Di Samwon ada 2 pilihan daging yaitu Australia dan USA dengan harga 80-120rb per porsi. Cara makannya cukup bungkus daging bersama (kalau suka) bawang putih segar juga kimchi dan saus bulgogi dalam selada atau daun "apa itu" terus tinggal leeep deh macam di iklan sozzz eh di drama korea deh.



Next menu adalah sogogi jeongol macam shabu-shabu lah. Penasaran sama isinya? Daging sapi, sayuran, dan jamur dengan kuah kaldu daging sapi yang merah karena kami memang minta pedeuus. Untuk menu ini ada dua pilihan ukuran yaitu personal dan porsi keroyokan untuk sekitar 4-6 orang (dibuku menu sih gitu) masing-masing bisa ditebus dengan 60an dan 200 ribu.


 Nah kalo Nakji Bokkeum kayaknya pernah saya bahas deh yah. Semacam tumis gurita pakai bumbu yg menurut saya enak.

Sebenernya mesen menu ini tuh karena 2 menu pesanan kami belum mencapai target dan jadinya daripada nggak bisa direfund mending ambil menu lagi dan pastinya harus habis. Hmmm dari segi rasa menurutku sogogi jeongol dan nakji bokkeum nya juara. Bulgogi nya enak sih tapi berhubung udah pesan jeongol jadi aja bulgogi nya ga bisa bakar sendiri karena lapaknya dipakai. Atmosfernya juga oke punya kok. Sedikit yang kurang adalah free tea yg bukan teh jagung tapi ocha dan mbak-mbaknya kuranp pol tuh wardrobe nya kurang memberi aura-aura korea. Tapi secara keseluruhan oke punya lah dan saya merekomendasikan resto ini kalau ada budget mah hehehe



Jumat, 11 Januari 2013

Masak Kreatif ala Anak Kost

Selamat malam para anak kos dan mantan anak kos. Hmmm mengapa malam ini saya menyapa anak kos karena tadi siang saya sempat berbincang dengan seorang kawan tentang salah satu hal yang anak kos banget.

Secara de fakto sih saya cuma 1,5 tahun jadi anak kos 1tahun pertama dan 1 semester terakhir karena sisanya saya numpang di tempat teman heeee.. yah meskipun judulnya tetep ngekos sih yah. ?

Hmm jadi begini, salah satu problem anak kos seperti saya adalah terlalu hobi masak (meskipun eksperimetal) dan terlalu bawel dan bosen menu kalau makan diluar. Hmmm kali ini saya nggak akan bercerita panjang tapi saya mau bagi-bagi resep andalan saat kondisi anak kos malas masak, peralatan masak nggak lengkap atau sekedar bosen makan pecel lele. Nah kalau udah terjebak dikeadaan macam itu biasanya saya sebagai anak kos yang (sok) kreatif bakal mendekatkan diri dengan rice cooker.

Sebagai orang Indonesia sejati pastinya perut ini nggak afdol kalau nggak diisi nasi tapi nggak mungkin juga buat saya makan nasi putih gitu aja, sekere-kerenya nasi juga kudu punya rasa maka nasi liwet lah jalan keluarnya. Hmm lupakan nasi liwet solo yang ampun-ampunan ribet karena ada kuah santan, kali ini yang saya biasa masak adalah nasi liwet sunda yang resepnya saya contek dan modifikasi dari seorang kawan.

Nasi liwet ini sebenrnya biar cihuy dimasak pakai dandang atau kasrol tapi sebagai anak kosan yang ga mau terlalu intim sama warung nasi maka harhs sedikit kreatif menggunakan rice cooker.

Jadi peralatan seadanya yang harus disiapin adalah :

- Rice cooker : ukuran kecil lebih asik tapi kalau adanya yang besar mending sekalian makan bareng teman - teman
- sendok nasi : ga mungkin ngambil nasi panas pakai tangan kan?
- pisau dan talenan : ini pasangan sejoli yang harus kita punya atau seenggaknya kita cari buat masak.


Setelah alat-alat lengkap maka seterusnya adalah menyiapkan bahan. Oh iya saya nggak akan ngasih takarannya karena kalau saya masak biasanya asal cemplung dan adal masuk hahaha... oke bahan yang harus disiapkan adalah :


- beras : ya iya lah beras kan kita mau buat nasi. Jangan lupa cuci bersih yah.
- bawang merah dan bawang putih : buat saya yang dua ini wajib ada seenggaknya masing-masing 4 siung kalau lebih juga nggak apa malah lebih cihuy. Bawang yang udah dikupas nggak perlu dipotong cukup dikeprek alias ditekan alias di-press
- cabe rawit : cabenya nggak perlu dipotong juga cukup dicuci. Kalau jumlahnya terserah yang mau makan aja seleranya kayak apa.
- daun salam dan sereh :  buat anak kos agak susah yah dua item ini tapi nggak ada salahnya pas beli bawang beli ini juga biar rasa dan aroma nasi liwetnya lebih pol. Hmmm 3 lembar salam dan 2 batang sereh juga cukup kok buat takaran beras segimana pun. Yah kalau beli di warung mah minta 500eun aja kalau udah ga boleh berarti beli 1000eun lah. kalau nggak ada juga yah nggak usah pake juga ga apa tapi emang agak kurang pol sih.
-garam dan perasa : ini penting buat ngasih rasa sama nasinya nanti. Kalau saya sih buat yang rice cooker kecil biasa pakai 1 sendok teh. Sedangkan untuk perasa bisa pakai kaldu bubuk sapi atau ayam, pakenya sebungkus kalau buat rice cooker besar, yah nalar aja lah yah disesuaikan sama garam juga,
-lauk : oke, lauk disini boleh ditambahin, boleh nggak tergantung persediaan. 
---Kalau lagi makmur ada ayam maka ayam mentah yang udah dicuci bersih tinggal disatuin sama beras. Iya cemplungin aja langsung. Emang agak serem sih tapi kaldu dari ayam bakal bikin nasi lebih enak.
---ebi dan teri jadi paporit sayah kalau udah nyatu ke nasi hmm enyaak.. cara masaknya juga tinggal diaduk aja sama beras. Oh iya kalau teri atau ebi atau rebonnya asin jangan lupa kurangi sedikit garam yang dipakai.
---ikan peda juga bisa dipakai tapi masukinnya pas nasi udah mau matang, taruh aja diatasnya. Hmm tapi saya belum pernah nyoba yang ini pake rice cooker sih heheee...
---telur, nah kalau telur yang dimasukin ada baiknya kalau porsi makan nasi liwetnya buat sekali makan dan buat sendiri jadi enakan pake rice cooker yang kecil. Sama kayak ikan peda, cara masukin telur juga pas nasi udah mau matang. Nah pas nasi kira2 udah mau matang langsung deh ceplok telur diatasnya macam bibimbab nya korea hehehe...



Yak panjang yah? Nah sekarang cara masaknya adalah tinggal satuin semua bahan yang kita punya terus aduk dan tambahin air seperti masak nasi biasa, kalau saya sih biasanya airnya agak lebih banyak dari masak nasi putih biasa karena tampakhya si air bakal keserap sana -sini jadi kalau sedikit banget jadi kekeringan. Yah seenngaknya kalau orang yang biasa ngukur air masak nasi pakai telunjuk bisa pakai patokan air buat liwet ala anak kos ini 1,5 sampai 2 ruas jari lah.

Gimana? Tertarik mencoba? Selamat mencoba dan segala sesuatu yang agak melesetmdiouar tanggung jawab saya ya hehee.. mari bereksperimen :)

Selasa, 04 Desember 2012

Ngubek Jakarta : Karilam Gang Gloria yang Super!!!



Apa yang terlintas dipikiran kalau mendengar kata Kari?? pasti mengarah ke india atau daerah timur tengah. lalu gimana kalau saya cerita tentang salah satu makanan favorit saya di pecinan adalah kari, ya namanya adalah kailam.

Ada yang bilang karilam berbeda dengan kari atau karee tapi buat saya sama-sama bertabur rempah. oke, emang sih rempah di karilam berbeda dengan kari timur tengah soalnya bagi saya yang nggak suka rempah yang menyengat kari lam ini cukup enteng dan masuk banget.

Seperti yang saya pernah cerita di "Petualangan di Gang Gloria" karilam ini berada di ujung gang gloria. Oh iya, Karilam yang dijual disini terdiri dari dua varian yaitu ayam dan sapi jadi bisa sedikit tenang lah ya makannya hehehe... 

Untuk varian ayam yang dipakai (tampaknya) adalah ayam kampung. sedikit spekulatif sih tapi soalnya pas saya minta banyak tulang eh ternyata tulangnya keras banget dan nggak bisa dikuntah selayaknya tulang ayam di fast food. Nah karena itu lah muncul hipotesis (tsah gaya bet bahasanya) tentang jenis ayam yang dipake kalau nggak ayam kampung yah ayam pejantan tapi meskipun yang itu masih nebak-nebak tapi rasanyasih udah pasti.. pasti enyaaaak..

Varian lain adalah karilam sapi. Jujurn nih yah karena saya nggak ngarti masalah dunia persapian maka analisis saya mengenai karilam varian ini adalah ENAK! lha? yah karena enak beneran hehehe... dagingnya itu loh berlimpah dan dikit banget gajih-nya bahkan tampaknya hampir semua daging. Pool banget kan?

Kalau hidup aja butuh pendamping makan karilam pun butuh pendamping saat dimakan (hallaaah) kenapa? alesannya cuma satu, biar kenyang! pendamping ini adalah nasi dan misoa. Msoa itu semacam mie tapi tipis yah lebih besar dari bihun lah dan bahan dasarnya terigu. Kalau makan pakai misoa karilam langsung disiram di atasnya dan disajikan di mangkok super besar sedangkan kalau disajikan dengan nasi maka karilam disajikan secara terpisah.

Masalah harga? siap-siap merogoh kantong yah, karena satu porsi karilam dan pendampingnya harus ditebus dengan 23 ribu rupiah jadi siapin aja 25 ribu biar ada sisanya hehehe... tapi nih tips dari saya supaya sedikit ngirit adalah kalau kesana lebih baik berdua jangan sendiri jadi beli aja karilam satu porsi terus tinggal nambah nasi satu lagi deh hehehe.. soalnya ini porsinya seriusan gawat banget (saya aja makannya sampai capek :p).

Oke, jadi gimana? masih penasaran sebesar apa porsi karilam? ya udah yuk langsung kita meluncur...

Ngubek Jakarta : Lost in Pecinan-Glodok


Ingin merasakan serunya negeri tiongkok? apalagi jajanannya? hmmm nggak usah jauh-jauh karena di Jakarta pun kita bisa bergaya macam di tiongkok sana... apa sih yang nggak ada di Jakarta? Oke kemana kita? pastinya ke daerah pecinan atau china townnya Jakarta yaitu kawasan Glodok.

kali ini saya dan teman-teman akan menyusuri gang-gang kecil di pasar glodok. Taukah kalau ternyata di gang-gang tersebut banyak sekali lah seru dan makanan enak? ada wotie dan banyak jajanan lain. buat yang suka masak bisa juga belanja keperluan dan bahan masakan di toko-toko yang ada disana. yuk mari kita berangkat...

Sudah siap? weits coba cek dulu tips capruk dari saya sebelum kita mengembara ke pecinan Glodok.

Tips jalan-jalan ke pecinan ala Ucha
  • Gunakan pakaian yang nyaman misalnya kaos dan celana pendek karena ini bukan mall sob! jadi siap-siap aja sedikit berkeringat
  • No Heels! sekali lagi ini bukan mall tapi pasar dan kemungkinan besar kita akan jalan kaki menyusuri gang-gang senggol
  • Jangan lupa deodoran! keringet boleh ngucur tapi nggak dengan bau badan.
  • Bawa uang secukupnya, cukup untuk makan wo tie, cukup untuk beli kue, untuk belanja barang-barang unik pokonya secukupnya ya :P
Sudah siap? mari kita mulai dari video... baru kita brangkat :) 




Minggu, 02 Desember 2012

Lembut-Renyah Wotie ala Pasar Glodok


Sekilas makanan ini mirip dengan Gyoza yang berasal dari Jepang, juga hampir serupa dengan Suie Kiaw alias pangsit basah yang biasa kita temukan. Weits, ini serupa tapi tak sama, memang beda tapi sama-sama enak. hehehe...

Nggak perlu jauh-jauh ke negeri tiongkok untuk makan makanan enak ini karena di Jakarta pun ada lho... Warung Wotie ada beberapa di Jakarta, biasanya di kawasan pecinan atau perumahan orang-orang keturunan tiongkok, maklum makanan ini memang berasal dari negeri tiongkok sana. Kali ini saya mencoba wotie di kawasan Petak 9, Glodok Jakarta.

Awalnya saat teman mengucapkan kata "wotie" yang saya tangkap adalah kuetiaw hahaha.. maklum namanya asing buat saya. Oke, akhirnya saya mengikuti dia masuk ke gang kecil di seberang gang gloria.

Menyusuri gang-gang kecil mungkin menjadi satu dari sekian banyak hobi saya, berbekal dengan prinsip nggak masuk gang makan nggak akan menemukan makanan enak maka saya memutuskan untuk "ngubek" gang-gang kecil dikawasan pasar Glodok dan benar saja saya dipertemukan dengan masakan unik ini lewat perantara seorang teman (#tsah).

Warung Wotie disini agak tertutupi oleh toko-toko dan meja-meja penjual makanan jadi harus jeli melihatnya. Oh iya disini nggak cuma jual wotie tapi juga menjual suie kiaw alias pangsit rebus, maklum aja adonannya emang sama

Seperti yang saya bilang di awal, saya kira ini adalah gyoza tapi ternyata sedikit berbeda. Ngomongin tekstur, wotie ini agak unik karena bagian bawahnya agak krunchy tapi bagian atasnya lembut banget. Nah lho semacam labil dia.

Ternyata komposisi garing dan lembut itu berasal dari cara memasaknya yang juga unik. Wotie dimasak dengan cara setengah digoreng, jadi yang terendam minyak hanya bagian bawahnya sedangkan bagian atasnya akan matang dengan uap air yang ada karena (kalau nggak salah) nantinya minyak akan diber percikan air kemudia ditutup tapat. Oh iya ketika digoreng, Wotie disusun sedemikian rupa secara padat didalam penggorengan yang mirip dengan loyang untuk martabak manis.

Hmm.. soal rasa? jangan ditanya kalau kulitnya aja enak apalagi isiannya.Isi Wotie adalah daging cincang yang dicampur dengan pe cai, bawang merah dan bawang putih.

Di warung Wotie yang saya kunjungi ini kita bisa liat pembuatan makanan enak ini, setidaknya dari menggiling kulit, memasukan isian sampai menggoreng. Karena menggoreng nya sekali banyak maka kita nggak perlu menunggu lama menunggu dari saat memesan hingga makanan datang.

Yang uniknya lagi, wotie dimakan dengan sederetan saus pendamping yang harus diracik sendiri dari bawang putih segar yang dicincang, kecap asin, cuka hitam dan minyak wijen. Buat yang mau menambahkan sensasi pedas disediakan saos sambel, sambel ulek dari cabai segar atau bisa juga minta merica bubuk.

Nah kalau sausnya udah diracik dan wotienya udah datang maka mari kita makan :)

Masih penasaran? silakan intip videonya



Rabu, 28 November 2012

Petualangan di Gang Gloria

Selamat Pagi! itu lah yang saya ucapkan saat menyambangi Gang Gloria. Mengapa Selamat Pagi? mungkin banyak orang yang bertanya. Ya, karena untuk mampir ke kawasan ini memang lebih enjoy di pagi hari atau tepatnya diwaktu-waktu sarapan orang normal hehehe.... dan yang pasti Jakarta lebih enjoy dipagi hari :)

Gang Gloria sebetulnya masih masuk ke kawasan pecinan Jakarta, letaknya di sekitaran Glodok atau lebih tepatnya diantara Glodok dengan Museum Bank Mandiri. Jangan bayangkan gang besar seperti tempat makan pecinan diluar negeri, Gang Gloria hanyalah gang senggol dengan deretan penjual makanan dari ujung ke ujung. Oh iya nama barunya dari gang ini adalah "Jalan Pintu Besar Selatan III" jadi kalau mau google map jangan gang gloria yah curiga nggak bakalan ada.

Oke, mari kita memulai perjalanan ini (#tsah macam petualang beneran aja). Kalau kita masuk dari arah Glodok atau Jalan Pancoran maka kita akan disambut dengan penjual manisan dan permen dari negeri Tiongkok. Deretan cokelat, permen dam manisan ini cukup menggugah selera untuk dicicipi ada cokelat koin atau permen susu yang menggiurkan.

Masuk sedikit kita akan "diserbu" oleh para pedagang bakmi, bakso dan pangsit juga tak lupa nasi campur. Untuk kamu yang suka makanan non-halal deretan ini bisa jadi surga kuliner sedangkan untuk kamu yang muslim tampaknya harus pilih-pilih nih dan menahan diri tergiur bakso goreng ekstra besar atau pangsit yang renyah. Tapi tenang aja masih banyak makanan halal lain yang bisa kamu coba dan jangan lupa Bismillah yah :)

Menyeruput Es Kopi
Nggak jauh dari situ, tepatnya disebelah kanan ada kedai kopi Tak Kie. Pintu masuk tempat makan ini agak tertutup lantaran deretan penjual sekba, bektim maupun Pi-oh yang mangkal dengan manis didepannya. Kedai Kopi ini bisa dibilang legendanya Gang Gloria lho dan udah ada sejak jaman dulu kala (aslinya lupa dari tahun berapa). Disini kita bisa makan bubur, pangsit, mie ayam dan banyak makanan lainnya termasuk bacang dan kue cangn. Mampir ke Tak Kie nggak lengkap kalau nggak nyobain Es Kopi alias "Kopi Us" (menurut foto lama yang terpajang di tembil). Meni kopinya nggak macem-macem cuma es kopi item dan es kopi susu yang bisa kamu tebus nggak sapai 15 ribu pergelas. Hmm.. Cukup mahal sih kesannya tapi rasanya itu lho maknyooos dan pastinya jauh lebih murah dari gerai kopi didalem mall itu kan?

Didepan Tak Kie ada pedagang kue.. hmm.. kue apa yah? saya lupa namanya tapi semacam bakpia berikuran super besar. Kue tersebut dijajakan dengan beraneka macam rasa mulai dari coklat, keju, durian hingga tjempedak iya cempedak harganya bermacam-macam standarnya sih 15 ribu untuk satu kue.

Bergeser sedikit kita akan disambut dengan pedagang Sekba dan Bektim juga pedagang Pi-oh. Sebeneranya makanan apakah mereka? Menurut teman saya dan blog walking yang saya lakukan, Sekba dan bektim adalah jeroan babi (iya, semacam usus dan kawanannya) yang diolah dengan rempah dan disajikan seperti semur. Ada beberapa orang yang bilang sekba dan bektim itu berbeda tapi saya sendiri belum tau bedanya apa hehehe... Kalau Pi-oh itu adalah masakan dengan bahan utama daging labi-labi alias bulus, nah lho masakan apa pula ini? jangan tanya saya ya karena saya juga belum mencobanya hehehe... mungkin kita bisa mencoba bersama.

Diujung jalan kalau mentok Gang Gloria ada semacam foodcourt gitu dengan beraneka macam pilihan makanan. Ada yang jualan mie juhi, nasi haimam, pempek, cakwe, aneka bubur manis seperti bubur kacang ijo juga dendeng Singapore. Nah untuk yang dendeng ada beberapa macam ada dendeng yang berbahan dasar daging babi ada juga yang sapi (saya lupa ada dendeng ayam juga apa nggak). Tapi buat saya di foodcourt ini yang jadi juaranya adalah Karilam.


Karilam Gang Gloria
Ada dua pilihan yaitu karilam ayam dan sapi yang disajikan dengan nasi atau misoa. Oh iya, kalau nggak laper banget saya saranin makan Karilam lebih baik semangkok berdua karena porsinya juara banyaknya. Sebagai orang yang nggak suka makan daging ayam buat saya ayam di karilam ini cukup enak lantaran pakai ayam kampung jadi teksturnya nggak lembek banget tapi juga nggak keras kayak karet dan pastinya ayamnya banyak begitu juga dengan daging sapinya, seriusan nggak pelit. Well tapi yah siap-siap aja mengeluarkan 25ribu untuk satu mangkok karilam

Oke, sebenarnya masih banyak jajanan lain yang super enak sepanjang gang ini tapi berhubung belum semua saya coba jadi belum banyak yang bisa saya informasikan hehehe.. Daripada penasaran ada baiknya maru kita langsung meluncur aja deh. Mari kita menikmati Jakarta dari berbagai sudut kota.. ahoooy!


Jumat, 10 Agustus 2012

Lontong Kupang yang biasa saja

 
Kalau denger kata kupang apa yang terlintas dipikiran kita? Ibu kota Nusa tenggara timur? Kalau gitu lontong kupang berarti lontong yang berasal dari sana dong? Weits jangan salah dulu, saya makan lontong ini emang di wilayah timur tapi di jawa timur alias di Surabaya

Awalnya saya melihat penjual lontong kupang di kota persinggahan saya pertama yaitu Malang tapi apalah daya, niatan baru terlaksana saat saya berkunjung ke kota pahlawan itu pun nggak disengaja. Beranjak dari rasa penasaran saya gara-gara ini makanan sempat dibahas oleh mba Riyani Djangkaru di program andalannya itu maka bulat lah niat saya untuk mencoba makanan berkuah ini.

Well, jadi apakah kupang itu? Kupang adalah kerang super kecil yang bisa kita temukan di perairan dangkal. Nah lontong kupang berarti lontong dengan topping kerang-kerang kecil yang diolah sedemikian rupa. Seperti banyaknya makanan surabaya yang nggak lepas dari yang namanya petis, Lontong kupang juga memakai campuran petis saat meramunya. Petis, sambel, perasan jeruk nipis jadi bace di piring kita. Potongan lontong ditambahkan dipiring sebelum akhirnya disiram kuah beserta Kupang.



Dalam seporsi lontong kupang seharusnya kita mendapat rasa asin, manis, pedas dan asam segar dari perasaan jeruk nipis. Sayangnya, saat itu saya kurang mendapatkan rasa asam segar karena kulitas jeruk nipis yang agak kurang. Nah, satu hal lagi yang agak mengganjal adalah rasa manis yang datang tipis-tipis. Maklum saja saya bukan penyuka manis jadi ini cukup mengganggu. Solusinya? Tambahkan saja sambel yang cukup banyak hehehe...

Makanan sampingan saat menikmati lontong kupang adalah sate kerang. Penganan ini sangat mudah kita jumpai di Surabaya terlebih lagi di kawasan pesisir. Mungkin agak aneh menyantap lontong kerang dengan sate kerang? hmmm terdengar sangat homogen tapi percayalah itulah yang akan kita temukan.

Makan lontong kupang di daerah pesisir tentu belum lengkap tanpa es kelapa sebagai minumannya. Maka saya pesanlah itu Es Degan sebagai minuman sekaligus pencuci mulut setelah menyantap lontong kupang.

Slluuurrrp... Nah setelah perut sedikit terganjal saatnya kita cari lagi apa yang bisa di kunyah hehee...



Dimana : Kenjeran, Surabaya (tapi tersedia hampir disetiap tempat di Surabaya)
Berapa : 5000 – 7000
Kapan : Hampir setiap saat ada

Jumat, 20 Juli 2012

Tudari : Modern dan Tradisional Korea ala Bandung

Teng-teng-teeeeng... Lagi-lagi saya akan membahas makanan dari Negeri Gingseng :D Sudah siap??? Yuuuk mari. Kali ini restoran yang saya singgahi bernama TUDARI, berbeda dengan Myeong Ga yang berkesan tradisional dan homy maka Tudari memiliki kesan lebih modern namun tetap homy.

Nggak sulit untuk mencari restoran ini letaknya yang dipinggir jalan dan ornamen yang Korea banget bikin Tudari mencolok dijejeran Jalan Surya Sumantri itu. Bangunan resto ini terdiri dari dua lantai, lantai dasar terdiri dari jejeran meja plus kursi kalau yang atas kebetulan saya nggak sempet ke atas hehee...

Oke, setelah milih tempat duduk maka saatnya kita memilih makanan untuk disantap. Jujur, tadinya saya mengharapkan jenis soup kaya isi yang saya temui di buku menu Myeong Ga tapi ternyata tak terlalu banyak menu yang ada dan kebanyakan hidangannya yang saya belum pernah tau. Yah dengan banyaknya yang saya nggak tau maka saya menyingkirkan pilihan dari menu standar macam Gimbab, Bulgogi dan yang lainnya dan pilihan saya (juga teman saya) jatuh pada Nakjibbokem dan Sulryungtatng.

Yuk mari kita menilik makanannya, pertama : Nakjibbokem. Nakjibbokem adalah Tumis Gurita dengan bumbu yang berminyak yang tadinya saya kira dimasak balado heeee. Rasanya? hmmm... rasanya cukup kuat, rasa bumbu dan daun bawangnya hehehe.. kalau daging guritanya? nggak jauh sama rasa cumi. Oh iya buat yang tertarik sama menu ini saya sarankan nggak usah mesen nasi lagi soalnya menu ini udah disajikan bersama misoa rebus kecuali kalau ini mau dijadikan makanan tengah jadi nggak akan terlalu kenyang.

Pilihan kedua jatuh pada Sulryungtang yang merupakan soup daging dengan bumbu sum-sum. Soup berkuah putih pucat ini disajikan dengan banyaaaaak kuah yah meskipun dagingnya juga cukup banyak dengan potongan yang cukup besar. Lucunya soup ini disajikan dengan banyak bahan pelengkap seperti doenjang (semacam tauco korea *klo salah maap yah), cabe rawit korea (yang menurut saya lebih mirip cabe ijo besar) juga disuguhkan kimchi lobak serta nggak lupa aneka macam bumbu mulai dari black pepper, garam juga gochujang. Oh iya jika kita mencoba menu ini kita tak perlu memesan nasi lagi karena sudah termasuk seporsi nasi juga. Bagaimana rasanya? hmm cukup flat tapi menyegarkan tapi jika sudah ditambah ini-itu seperti aneka bumbu dan doenjang maka sup ini akan kaya rasa yang menurut saya, Korea banget!

Next, nggak lengkap namanya kalau mampir ke resto Korea tanpa ngebahas deretan gratisannya hehe... maksudnya banchan dan teh jagungnya. Seperti biasa saya dapat 10 macam bancan mulai dari berbagai acar, salad hingga salad buah juara! tapi sejujurnya saya menantikan si cumi kering hehehe.. *ngarep

Seperti yang saya bilang tadi, kalau saya bandingkan dengan Myeong Ga, Tudari jauh lebih modern ditambah lagi dengan display makanan yang berjejer dietalase depan toko, jadi kalau bingung seperti apa makanan yang bakal kita pesan tinggal liat aja di display yang terbuat dari plastik karet itu. hmmm.. Yah meskipun nggak semua makanan sih tapi seenggaknya buat yang aneh-aneh kita bisa punya bayangan hehee...

Oh iya ada satu menu yang menurut saya lucu (lucu siih tapi buka hello kitty) saya lupa namanya apa tapi dia makanan penutup berbentuk roti ekstra besar (macam roti tawar belum di potong) dengan es krim diatasnya. kenapa saya nggak coba? karena selain udah nggak ada budget kami sudah kekenyangan ampun-ampunan deh. Nanti kalau ada yang nyoba pliiis kasih tau yaaah kata temen saya didalem roti ekstra besar itu ada isinya (penasaran).

Yah masalah  porsi emang resto korea juaranya! nggak dimana-nggak dimana porsinya ektra sampai saya dan teman saya berpendapat kalau porsi yang kami makan bisa untuk 3-4 orang jadi kalau makan satu menu-satu orang yah lumayan bikin planga-plongo kekenyangan hehehe... Oke, Setelah kenyang makan dan kenyang cerita maka saya tutup papacuap ini karena saya mau berburu makanan lainnya hehehe.. mari makan.. *cocol rawit korea ke doenjang

Apa : Tudari
Dimana : Jl. Surya Sumantri no.36 depan SPBU samping BCA
Kapan : Dari jam 9 pagi - 9 malem
Berapa : waktu saya makan sih abis 200ribu buat berdua *lumayan menguras kantong :"(

Kamis, 19 Juli 2012

Bakpaw Min Yen, Bakpau Klasik Kota Bandung




Bandung memang ditakdirkan menjadi satu dari sekian banyak surga makanan yang ada di dunia, nggak cuma makanan dengan aneka kreasi yang menggiurkan tapi juga makanan sederhana nan klasik bisa kita temukan disini. Kali ini saya akan mencicipi Bakpau, ya makanan serupa roti yang dikukus khas dari negeri Tiongkok, sederhana bukan?

Berhubung Bakpau datang dari negeri Cina sana maka nggak salah kan kalau saya mencarinya di daerah pecinan? Daerah pecinan di Bandung terletak di kawasan Astana anyar, Cibadak dan sekitarnya. Terdapat cukup banyak toko bakpau hingga resto chinese food disepanjang jalan ini, konon untuk urusan bakpau toko Min Yen adalah juaranya oleh karena itu karena takut kebablasan kalau naik angkot maka saya memutuskan menyusuri jalan Astana Anyar dengan berjalan kaki.

Setelah beberapa kali menghampiri dan membaca plang toko bakpau dan bertanya sana-sini akhirnya saya sampai juga di perempatan antara jalan Astana Anyar dengan Jalan Sudirman dan disana lah toko Bakpaw Min Yen berada berbentuk bangunan tua yang klasik dan membuat saya makin berselera. Tak banyak oramen di toko ini, hanya tulisan sederhana diatas gedung dan plang kecil didepan jejeran kukusan, tidak terlalu menarik memang.


Yah anggaplah kadang penampilang tak harus selalu berbanding lurus dengan kualitas makanan, buktinya dengan tampilan yang sangat biasa saja Bakpaw Min Yen tetap bisa dikenal orang. Toko ini menjual dua macam produk yaitu Bakpau dan Siomai menurut saya dua-duanya patut dicoba.

Pertama, Bakpau dari namanya aja "Bakpaw Min Yen" yang pasti ini adalah produk paling utama. Ada tiga jenis bakpau yang dijual yaitu bakpau manis, bakpau asin dan bakpau spesial. Bakpau manis berisi kacang hijau atau kacang merah gitu (saya tak mencoba soalnya) sendangkan bakpau asin berisi daging ayam dua bakpau ini adalah jenis bakpau yang biasa kita temui disetiap penjual bakpau. Lalu bagaimana dengan bakpau spesial? dengan harga dua kali lipat dari bakpau manis dan asin, bakpau jenis ini punya isi yang komplit-plit. Sebenarnya bakpau spesial adalah jenis bakpau asin dengan isi daging yang sangat banyak dan telur juga beberapa isian lain pokoknya dijamin makannya sampe bingung deh hehehe...

Menu kedua adalah Siomai. Jangan harap kita akan menemukan siomai lengkap dengan teman-nya seperti yang kita temui di siomai Bandung. Disini hanya menjual Siomai berukuran super dengan harga yang super hehehe.. harga satu siomai Rp. 8500 yah seharga dengan satu bakpau biasa. Hmm.. tapi buat saya rasa siomai disini JUARA! selain rasanya yang kuat, tekstur siomai yang nggak telalu halus dan padat ini sangat cocok dilidah saya :) Penasaran? Silakan mencoba



Apa : Bakpau Min yen
Dimana : Jl. Jendral Sudirman 171, Bandung (0224237329 delivery)
Berapa : Bakpau manis,asin dan siomai 8500 bakpau Spesial 17000
Kapan : Saya sih belinya pagi heheee..

Jumat, 01 Juni 2012

Myeong Ga : Merasakan "Rumah" Korea di kota Bandung


Korean Attack! yes, itulah yang terjadi skena invasi negeri ginseng sekarang ini bahkan saya pun itu. Agak berbeda dari teman-teman saya kebanyakan yang akhirnya hobi nonton K-Dorama atau dengan setia mentengin cowo-cowo cantik saya malah lebih tergiur dengan masakan mereka yang berporsi dahsyat dan berwarna mantap.

Petualangan menantang lidah kali ini saya mulai dengen ngubek kota Bandung dan pilihan petama saya jatuh pada Myeong Ga.Dari depan kta bakalan liat bangunan dengan dinding batu macam kastil-kastil gitu deh atau malah seperti rumah2 di korea yang berundak dan dikelilingin dinding batu. Jujur tadinya saya sempet jiper pas mau masuk, takut-takut kalau ini semacam fine dinning gitu tapi ya sudah lah ternyata pas saya masuk hmm.. beda banget deh.


Resto Korea yang (menurut saya) menawarkan suasana rumah ini emang hommy banget, dari pintu gerbang itu kita sedikit naik tangga dan langsung disambut sama para waiters yang ramah. Ada dua pilihan tempat duduk yaitu di meja dan kursi seperti biasa atau lesehan di tempat yang serupa dengan ruang tamu rumah-rumah disana (sok tau yah abisnya ada hiasan dinding macam origami dan TV yang nggak tau nyala apa nggak hehee...).


Oke setelah membahas atmosfernya maka mari saatnya menantang lidah, kali ini pilihan saya Jatuh pada Champong yaitu Mie seafood dengan kuah merah sedangkan teman saya memilih Sup kuah merah dengan seafood juga di dalamnya, fatalnya saya lupa apa nama makanan itu hehee... (kalau nggak salah Sundubujjigae) Minumannya? hmm saya tak memesan apapun karena sudah dapat Teh Jagung secara gratis dan refill pula (oke saya emang tipikal yang nggak mau rugi :P)

Seperti biasanya, sebelum makanan datang kita akan disuguhi oleh beraneka ragam banchan alias makanan pembuka. Nggak tanggung-tanggung 10 jenis banchan disuguhkan untuk "ngotorin" gigi sambil nunggu dua menu tadi. Tahu yang  dibalut telur (saya sempat menyangka ini semacam tamagoyaki),  buncis dan wortel yang direbus dan gurih, taoge rebus yang dibumbui, Tahu dengan saus merah dan banyak lagi adalah sederet banchan yang disajikan. Tentu saja ada dua jenis banchan kesukaan saya yaitu cumi kering yang diberi saos (lupa namanya apa) dan pastinya adalah Kimchi yang nggak boleh ketinggalan.

Jujur, menunggu makanan disini emang agak lama jadi banchan yang ada di meja sudah hampir habis kami makan sambil menunggu hidangan utama datang. Berpikir positif saja lah hidangan ini agak lama datangnya lantaran dibuat secara fresh soalnya pas datang memang masih PANAS hooo jadi hati-hati yah :)

Mari kita bedah apa saja isi makanan yang saya pesan. Champong ini terdiri dari semacam mie Udon yang biasa saya makan di tempat makanan Jepang lalu ada Seafood dan mereka semua berenang dalam kuah berwarna merah. Hmm.. untuk saya yang menyukai rasa yang kuat tampaknya tidak terlalu cocok dengan kuah ini, rasanya ingin menambahkan ini-itu karena cenderung terasa tawar hehee.. Tapi secara keseluruhan saya menyukai Champong ini (tentunya kalau ditambahkan kecap asin lagi hehe...) Porsinya? hmm.. jangan ditanya lagi lah buat yang sedang menjalankan diet kayaknya harus bawa bala bantuan hehee...

Menu kedua kita adalah sup merah isi seafood itu.. yah sebut saja lah Sundubujjigae (kalau salah yah maap yak) hmm kuahnya hampir sama seperti Champong cuma seafoodnya lebih berasa lah... Ya wajar toh ini adalah sup seafood hehee... Isi seafoodnya cukup untuk menaikan kolesterol karena selain udang dan cumi-cumi di mangkuk sup tersebut juga berenang lah kepiting unyu yang minta disiksa hehee oh iya untuk menu ini sudah di lengkapi dengan nasi lho jadi nggak usah mesen nasi lagi.

Selain dua menu diatas ada juga beberapa menu yang Korea banget yaitu Bimbimbab, Bulgogi, Galbi, Jjangmeun dan banyak lainnya. Makanan tengah semacam sup juga ada bahkan yang porsi-porsi besar yang bisa dimakan bersama harganya? hmm.. sesuai dengan porsinya harganya pun layak untuk dibagi beberapa hehe.. Saran saya sih kalau kesini coba beberapa masakan yang nggak biasa jadi bisa punya cerita dengan makanan itu heee...

Oh iya untuk minumannya ada juga lho Soju, semacam arak ala korea atau semacam sake lah kalau di jepang sana. tapi untuk merasakan minuman yang suka muncul di K-Dorama ini kita harus merogoh kantong cukup dalam sekitar 150ribu untuk satu botol. Hmm gimana? tertarik merasakan makanan rumah di korea dengan suasana rumah?


Apa : Korean Cuissine
Siapa : Myong Ga
Berapa : 40 ribu - 200an ribu. kira-kira 70an ribu per orang.
Kapan : 10.00-22.00 (saya sih kesana sekitar jam 3)
Dimana: Jl. DR. Sutami N0. 52 A BANDUNG (nggak jauh dari CK)

Kamis, 09 Februari 2012

Bernostalgia ala Toko Oen


Tersedot ke pertengahan abad ke 20, itulah perasaan saya pertam kali melalui pintu kayu di depan restoran ini. Memang nggak ada plang besar dan mewah untuk menandakan ini restoran dengan berbagai hidangan, di depan bangunan yang tetap mempertahankan suasana kolonial ini hanya tertulis "Toko OEN".
Ada yang bilang belum ke Malang kalau belum singgah ke Toko OEN, agak lebay memang tapi wajar aja karena Toko ini bisa jadi salah satu landmark-nya kota malang terlebih lagi dibidang kuliner.

Berdiri di tahun 1930, hingga kini Toko Oen nggak cuma mempertahankan suasana jadul-nya dari bangunannya aja tapi juga dari pilihan makanan dan penyajiannya. Sayangnya seperti tempat-tempat terkenal pada umumnya, kita harus merogoh kocek sedikit dalam untuk menikmati hidangan disini. Well, meskipun agak mahal tapi dijamin puas kok karena kita nggak cuma menikmati hidangan jadul tapi juga atmosfer yang ada.

Masakan yang ditawarkan oleh Toko Oen bermacam-macam loh! Mulai dari masakan western hingga oriental. Mulai dari Appetizer, Soup, Main course hingga dessert. Mulai dari makanan berat sampai kudapan semua ada disini. Oh iya buat yang pengen masakah dari olahan Pork juga ada loh!

Nah, setelah saya mengunjungi toko yang punya tag line "a colonial landmark since 1930" ini, ada beberapa menu yang bisa saya rekomendasikan yaitu Rori Bakar khas Toko Oen saambil menyeruput Oen Coffee. Buat yang nggak suka Kopi bisa juga mencoba Chocolate Rhum dan nggak lengkap jika mampir kemari kalau nggak mencoba ijs krim alias es krim-nya. Saat itu pilihan saya jatuh pada tutty frutty, es krim yang disajikan dengan tempilan slice ini cocok untuk menjadi kudapan saat berbincang dengan kawan.

Setelah menikmati makanan dan minuman serta es krim yang lezat jangan lupa berbagi atmosfer tempat ini dengan membawakan orang rumah buah tangan khas toko oen seperi roti-roti sederhana yang terpampang di etalase depan maupun beberapa jajanan yang bisa kita temukan di masa kecil.

Nggak perlu banyak cerita tentang tempat ini karena memang harus menyambangi tempat ini langsung untuk merasakan bagaimana terseret ke pertengahan abad 20 ala noni dan meneer di Malang.


Apa : Westerns, Indonesian and Oriental Cuissine
Siapa : Toko Oen
Berapa : Makanan 6.000 - 60.000 Es Krim 10.000 - 30.000
Kapan : -
Dimana: Jl, Basuki Rahmat (Jl. Kajoe Tangan) No. 5 Malang

Sabtu, 06 Agustus 2011

Melahap Bakso di Kota Bakso

Siapa yang nggak tau makanan bulat khas kota Malang ini? Yups, nggak lengkap rasanya kalau mampir ke kota Malang tanpa melahap Bakso khas kota ini.

Bakso Malang emang udah terkenal di banyak tempat bahkan sampai ke luar negeri loh! tapi gimana yah rasanya makan bakso malang langsung di kota malang? Nggak susah mencari makanan berbahan dasar daging ini di kota malang, Mulai dari yang dijajakan di Gerobak sampai menempati urutan menu restoran kelas atas.


Nah dari sekian banyak "tukang" bakso di kota Malang, (atas saran dari seorang kerabat) pilihan saya jatuh pada bakso Dong yang bertempat dikawasan pusat kota, tepatnya di Jalan Hasyim Ashari NO. 8. Setelah agak muter-muter untuk mencari gerai bakso ini akhirnya saya menemukannya di jalur yang (*kalau nggak salah) satu arah.

Jangan bayangkan gerai bakso yang heboh atau semacam franchise yang cukup eye-catchy. Gerai bakso ini bisa dibilang cukup kecil dan mudah luput dari pandangan, tapi untungnya saya bisa menemukannya. Bentuk gerai bakso ini hanyaa sebuah toko kecil dengan papan nama yang di endorse sebuah minuman dengan slogan "apapun makanannya.." jadi harus jeli untuk mencarinya.

Seperti kebanyakan gerai bakso di malang, pembeli biasanya dapat memilih sendiri bakso yang diinginkan. Pilihan bakso yang disediakan adalah bakso urat dan halus berbagai ukuran serta didampingi oleh tahu putih serta syomai/pangsit basah. Nggak cuma yang basah, ada juga bakso kering nan keriting yang rasanya cukup menggugah selera. Soal rasa? hmmm jujur tampaknya saya belum mendapatkan rasa yang mirip dengan ini di Jakarta, ueeenaaak banget :D (*yang original emang poool deh)

Gimana soal harganya? weits tenang aja, makan di kota Malang nggak akan menguras kantong termasuk saat makan bakso. Ups tapi tergantung berapa bakso yang kamu ambil yah! berbeda dengan di Jakarta yang umumnya menjual bakso per-porsi disini bakso dihitung satuan, hmm jadi kira-kira aja yah makannya.

Oh iya ada satu cara unik untuk menyantap bakso di kota ini, sebenernya saya belum mencobanya tapi cuma lihat saja. Di beberapa gerai bakso disediakan semacam piring kecil untuk membumbui bakso, nah makannya dengan mencelupkan bakso tersebut ke racikan saus, kecap dan sambal yang diracik sesuai selera. Spekulasi adalah saya biat kuah bakso bisa tetap dinikmati secara original. Penasaran? silahkan mencoba!

Apa : Bakso Malang
Siapa : Bakso Dong
Dimana : Jalan KH Hasyim Asyari, Malang, Jawa Timur
Berapa : Bakso kecil Rp. 1000, Bakso Besar Rp. 5000, Bakso Goreng Rp. 2000
Kapan : -