Kamis, 06 Februari 2014

Kopi Sore bersama PIsang Goroho dan Kopi Kotamobagu

Masih dari Kota Manado dan masih bercerita tentang kuliner Manado 
(*dibaca dengan gaya penyiar tahun 90an)

Jalan-jalan di kota Manado memang harus dengan perut yang selalu kosong atau yah setengah kosong lah, entah berapa banyak jajaran makanan dan minuman yang menjadi khas kota ini. Kali ini saya mencoba kudapan Pisang Goroho ditemani Kopi Kotamobagu sambil menikmati sore dan berbincang santai bersama kawan.
+ cha mau pisang goroho nggak?
-  pisang diapain Oom?
+ hmmm apa yak, yah pisang digoreng nanti makannya pakai sambal
-  mauuuuuuuuuu
Awalnya saya kira pisang goroho ini adalah pisang goreng yang biasa saya jumpai di abang-abang tukang gorengan di Jakarta terus dicocol di sambel. Kalau ini sih udah nggak aneh buat saya, soalnya disebuah kedai kopi khas Manado di Jakarta saya sering memesan kudapan ini.

Tapi.. oow.. yang keluar bukan lah pisang bersalut terigu yang digoreng melainkan keripik pisang masih hangat yang baru saja digoreng disajikan dengan sambal. Haduh mau komplain tapi nggak enak euy. Dipikir-pikir yah nggak salah juga sih soalnya dia emang bilang pisang yang digoreng hee...

Agak mendung sih, Selamat Sore Manado!
Awalnya agak aneh lihat keripik pisang tipis yang akan dicocol sambal tapi ternyata... enak boy!! apalagi kalau sudah dicocol sambal. Awalnya saya kira pisangnya agak manis seperti pisang goreng yang biasa saya makan, tapi keripik pisang ini cenderug asin bahkan bisa dibilang malah nggak ada rasa dan saat dicocol dengan sambal rasanya nggak jadi tumpang-tindih antara manis dan pedas. Kata kawan saya ini, selain diiris setipis kripik seperti yang dia buat, pisang Goroho juga bisa digoreng agak tebal sehingga lebih empuk tapi tetap tidak menggunakan tepung seperti pisang goreng yang biasa saya temui.

Kenampakan "Keripik Pisang" cocol sambal
Menurut pengamatan saya (ciie elah) Pisang yang dipilih tampaknya bukan yang terlalu matang sehingga pas diiris tipis dan digoreng bisa jadi krispi *kriuk* atau memang untuk membuat makanan ini diperlukan jenis pisang khusus tapi saya nggak tau jenis pisangnya, mungkin juga pisang Goroho itu bukan nama makanan mmelainkan jenis pisangnya. Hmmm kalau saya diajak jalan-jalan oleh Daihatsu ke Manado saya bisa tanya "jenis pisang untuk makanan ini apa?" jadi nggak berspekulasi deh heheee (modus banget ah)

Sepertinya nggak susah untuk membuat pisang goroho, pisang yang masih mangkal dipotong tipis lalu digoreng dengan mintak panas dan banyak. Sambil menggoreng jangan lupa siapkan sambalnya. Makanan di Manado memang terkenal dengan rasa pedasnya, ah siapa yang nggak tau dabu-dabu atau rica semua itu berasal dari Manado. Untuk sambal cocolannya bisa dipilinh sesuai selera bisa dabu-dabu bakasang, rica roa atau sambal lainnya yang penting bukan saos sambal yah.

Ngobrol dan ngemil sore belum lengkap kalau belum ada minumannya. Mumpung di Manado saya sempat hunting kopi yang terkenal atau khas dikota ini, bukan kedai kopi sih tapi kopi sachet rakyat aja yang bisa dibeli diwarung sekalian bisa jadi oleh-oleh dan stok dirumah dan semuanya menyarankan Kopi Kotamobagu.

Kopi hitam adalah salah satu minuman favorit saya, tepatnya kopi hitam tanpa gula yang diseduh dengan air panas. Ya, sesederhana itu! dan beruntunglah saya datang ke kota Manado. Kalau Sulawesi Selatan punya Kopi Toraja, maka Sulawesi Utara punya Kopi Kotamobagu. Memang kopi ini belum seterkenal kopi toraja dari selatan tapi soal rasa jangan ditanya! Selain sama-sama pahit (ya iyalah namanya juga kopi) kopi Kotamobagu punya citarasa tersendiri, agak gurih sih kalau saya bilang. Oh iya Kotamobagu atau tepatnya Kota Kotamobagu adalah nama sebuah kota yang tak jauh dari kota Manado.

Sebagai penikmat kopi dan juga penderita maag, kopi kotamobagu bisa dibilang cukup aman terlebih lagi jika diminum dengan suhu sekalian hangat atau sekalian dingin menggunakan es jadi jangan diminum saat suhu ruangan yah. Saya juga bereksperimen membuat kopi susu dengan varian kopi ini, dan ternyata rasa kopi kotamobagu memang cenderung kuat. Kalau takarannya pas kita bisa mendapatkan kopi susu yang cukup milky tapi dengan rasa kopi yang tetap strong lho.. jadi minuman-nya tetap kopi susu bukan susu kopi dan menurut ke-sok-tau-an saya, kali ini saya mendapatkan kopi jenis robusta. Untuk lebih pastinya mungkin jika saya kesana lagi bisa memastikan jenis kopi yang saya minum :)

Ah, Manado memang menyimpan banyak makanan unik dan ini baru ditengah kota lho, nggak terbayang berapa banyak lagi koleksi makanan dan minuman yang dimiliki oleh kota ini. Oh iya kalau teman-teman penasaran dengan dua kudapan tadi dan cenderung malas berkesperimen atau nggak bisa dapat jenis kopi-nya, coba tengok di kota kalian kedai atau rumah makan Manado. Kalau di Jakarta saya biasa merapat ke kedai Kopi khas Tikala (sebuah nama kawasan di kota Manado). Selamat ngemil!


Tulisan ini saya ikutsertakan dalam Jelajah Kuliner Daihatsu