Kamis, 14 Juli 2011

6 Provinsi, 5 Kendaraan, 23 Jam

Barbuk perjalanan saya, tiket pergi-pulang
Crazy Trip! itulah yang terlintas di benak saya setelah mengingat-ngingat kegilaan apa saja yang saya lakukan di awal Juni kemarin. Yah beberapa kota dalam satu hari, naik turun kendaraan dan akhirnya sampai di kota tujuan.

Ini pertama kalinya saya bepergian jarak jauh dengan kereta bisnis, ini bukan karena saya bergaya atau kebanyakan ongkos tapi long weekend membuat saya kehabisan tiket kereta ekonomi untuk tujuan Surabaya atau Malang. Nah, karena niat yang sudah terlalu besar maka akhirnya tanpa banyak pikir saya mengeluarkan uang Rp. 105.000 untuk membayar tiket Kereta Fajar Utama jurusan Semarang.

Butuh sekitar 7 Jam lebih untuk ular besi ini tiba di Stasiun Tawang, Semarang. Sempat terserang blah-bloh tingkat tinggi saat saya tiba stasiun. Jujur tak ada satu kawanpun di kota ini. Setelah pasrah melihat jadwal kereta dan penuhnya kereta maka akhirnya saya memutuskan keluar stasiun untuk mengisi perut karena sejak kereta berangkat pukul 7.30 balum banyak makanan yang masuk ke perut saya.

Setelah mengisi perut otak saya bekerja agak jernih. Entah apa yang terlintas namun setelah melihat papan petunjuk terminal bus yang mengarah ke terminal akhirnya saya memutuskan bahwa itulah tujuan saya di kota itu sambil berharap menemukan bus ke kota Malang atau Surabaya.

Tak perlu waktu lama untuk saya berpikir hingga saya berada di atas bus jurusan terminal Terboyo. Uang sebesar Rp.2.000 pun saya keluarkan untuk ongkos bus yang mengantar saya dari stasiun ke terminal. Sekitar 15 menit saya sudah di pintu keluar Terminal dan keblah-blohan pun kembali menyerang setelah melihat tidak ada satu pun bus yang mengarah ke Timur.

"Waduh jangan-jangan salah terminal. Jangan-jangan ada beberapa terminal kaya di Bandung atau Surabaya" Ujar saya dalam hati

Beberapa lama saya berpikir dan setelah beberapa bus lewat di depan saya akhirnya saya memutuskan untuk melenggang ke kota Yogyakarta setelah melihat Bus yang cukup nyaman. Kenapa harus ke Yogya? Saya pun tak tahu, itu reflek saja. Yah setidaknya tadinya saya berharap beberapa jam mengobrol dengan kawan disana sambil menunggu kereta jurusan Malang berhenti di stasiun Yogyakarta.

Beruntung bus yang saya tumpangi sangat nyaman dan kursi pun belum terisi penuh sehingga saya bisa bebas memilih tempat duduk dan tentunya untuk tas saya yang lumayan besar. Setelah merogoh kocek sebesar Rp. 35.000 saya bisa tidur dengan tenang selama sekitar 4 jam kedepan hingga saya sampai di Terminal Jombor Yogyakarta.

Sesampainya di kota Yogyakarta saya langsung menghubungi seorang kawan untuk menemani saya selama beberapa jam di kota Gudeg. Sungguh tak beruntung saya saat itu karena kawan sedang berada di luar kota Yogya. Tak habis akal, tiba-tiba mata saya terpaku pada salah satu Travel Agent yang ada di sekitar terminal dan tentu saja saya langsung mencari informasi tentang angkutaan ke kota Malang.

Ada dua alternatif yang disuguhkan kala itu (1) Bus malam seharga Rp. 85.000 (2) Jasa Travel seharga Rp. 100.000. Opsi ke dua jadi pilihan saya karena fasilitas yang ditawarkan yaitu hidangan makan malam dan kenyamanan khas travel dengan sedikit penumpang serta yang paling penting adalah saya akan diantar sampai tujuan.

Tampaknya travel agent tempat saya ini bukan lah cabang dari travel tersebut, tapi tak apa lah ternyata harga yang ada sama dengan harga juga saya membeli langsung di kantor travel yang saya gunakan. Sekitar pukul 8 Malam Sebuah mikro bus (elf atau L 300) dengan brand Dewata Travel datang menjemput saya. Huuuh senangnya akhirnya saya akan tiba di Malang.

Tempat duduk di pinggir kaca jadi pilihan duduk saya, setelah mendapat posisi nyaman saya pun mulain menukmati perjalanan. Sebuah welcome snack yang berisi sepotong brownis kukus dan sebuah teh kemasan menjadi teman menikmati jalan sekaligus pengganjal perut yang kembali lapar.

Sekitar pukul 01.00 Supir membangunkan saya dan seisi armada untuk meyantap makan malam, sebuah ruangan khusus dengan meja prasmanan menyambut saya yang mulai kelaparan. Dua macam lauk dan sayuran menjadi sasaran saya untuk makan malam yang sangat telat ini. Sekitar 1 jam kami istirahat di daerah yang saya kurang tau tempatnya, nggak cuma makan yang dilakukan disini taapi juga pindah travel untuk beberapa penumpang.

Perjalanan pun dilanjutkan dan saya kembali menarik selimut dan menyandarkan kepala ke bantal yang menjadi fasilitas di dalam armada tersebut. Sekitar pukul 4 supir membangunkan saya untuk menanyakan alamat. Yes! saya sudah sampai Malang! Beruntung rumah kerabat saya cukup di tengah kota sehingga tak sulit mencarinya dan akhirnya saya sampai dengan selamat setelah beberapa belas jam di perjalanan dan terombang-ambing nggak jelas.

Ciputat - Stasiun Senen - Stasiun Tawang - Terminal Terboyo - Terminal Jombor - Malang! Yah itulah rute sekali jalan saya. Berawal dari Pinggiran Provinsi Banten menuju DKI Jakarta melewati beberapa kota di Jawa Barat berhenti di ibu kota Jawa Tengah, mampir ke DI Yogyakarta dan akhirnya tiba di kota ternyaman di Jawa Timur.

Yah, itulah kisah singkat perjalanan saya yang sama sekali nggak singkat hehehe... masih banyak cerita saya tentang jalan-jalan kali ini, semoga bisa secepatnya saya share :)

Kota Malang : Kenangan 10 Tahun lalu

Sudah dua kali dalam tahun ini saya menyambangi kota itu. Pertama beberapa bulan lalu dan kedua di bulan lalu. Sebuah kota di selatan Jawa Timur sebuah kota yang akhirnya memikat saya. Sedikit sekali memori tentang kota itu di benak saya, maklum saja terakhir kali saya menyambangi kota tersebut mungkin 10 tahun yang lalu. Kota malang, kota kecil nan menyanangkan dengan orang-orang yang ramah dan cuaca yang menentramkan.

Sudah saya bilang, tak banyak memori tentang kota yang terkenal dengan apel-nya itu. hanya ada beberapa hal remeh yang terus melekat di otak saya saat mendengar nama kota itu beberapa saat sebelum kembali saya menginjakan kaki disana. Hotel pelangi, Taman dan sebuah restoran fast food (Mc.D kalau tdiak saklah) juga kediaman seorang paman. Ya, hanya hal itu yang teringat oleh saya tentang kota tersebut dan dibulan Januari lalu akhirnya saya menyambangi tempat-tempat tersebut.

Kali ini seorang kerabat dengan baik hati menemani saya berkeliling kota ini. Setelah saya bercerita dengannya tentang tempat-tempat yang melekat di memori saya akhirnya kami melaju ke Alun-alun untuk melihat kembali tiga titik di kota itu yang paling melekat di benak saya.

Hari pertama saya di kota apel sudah dibuka dengan sepiring rawon. Jujur bagi saya sarapan dengan rawon bukan suatu hal yang biasa dilakukan terlebih lagi saya tak bisa makan kalau tidak pedas. Menurut saya sebagai makanan berkuah rawon kan enaknya ditambahin sambel, nah masalahnya kalau makan pedes pagi-pagi waah perut bisa kontraksi hehehe...

Setelah kenyang mencicipi rawon di pagi hari khas kota Malang, saatnya saya menikmati kota ini. Tak butuh waktu lama dengan sepeda motor dari rumah kerabat saya itu akhirnya sampai juga Saya di alun-alun, taman yang selalu ada di benak saya. Seperti kebanyakan taman kota lainnya, taman ini cukup ramai disinggahi oleh warga malang yang ingin sejenak menikmati kota.

Tak jauh dari situ berdiri lah sebuah bangunan hotel yang terlihat nggak terlalu tua tapi juga nggak modern layaknya hotel-hotel yang baru dibangun. Ya, sebuah hotel sederhana dan cukup standar. Hotel pelangi, disanalah beberapa tahun lalu saya dan keluarga sempat bermalam.

Ya, menyenangkan telah menapaki kembali kenangan tentang kota ini. Hingga di bulan juni saya sekali lagi saya menyambangi kota ini, tentunya dengan pengalaman yang berbeda.